HUKUM SUAP


Istilah “suap” akhir-akhir ini kembali populer di negeri kita. Dalam pemakaian sehari-hari, suap sering diistilahkan dengan “uang pelicin” atau ”uang sogok”. Contoh di depan mata yang kini sedang menjadi headline media massa adalah kasus Wisma Atlit dan Kemenakertrans yang menjerat beberapa pejabat Negara, pengusaha dan tak menutup kemungkinan terus berkembang sesuai hasil penyidikan.
Ibnu Atsir rahimahullah mengatakan bahwa suap (risywah) berarti sesuatu yang bisa mengantarkan seseorang pada keinginannya dengan cara yang dibuat-buat (tidak semestinya). (an-Nihayah Fi Gharibil Hadits kar. Ibnu al-Atsir: 2/546)
Al-Fayyuni rahimahullah mengatakan (Misbah al-Munir 1/228): ”Suap adalah sesuatu yang diberikan seseorang pada seorang hakim atau selainnya (pengambil keputusan) supaya memutuskan hukum baginya atau memenuhi apa yang ia inginkan.
Dari beberapa pengertian tersebut bisa kita simpulkan bahwa suap adalah harta yang diperoleh karena terselesaikannya suatu kepentingan manusia (baik untuk memperoleh keuntungan maupun menghindari kerugian/ bahaya) yang semestinya harus diselesaikan tanpa imbalan.
Banyak sekali hal-hal yang mendorong seseorang untuk melakukan suap-menyuap tetapi disini akan kami sebutkan beberapa saja diantaranya:
1. Lemahnya iman dan taqwa seseorang. Karena keduanya merupakan kunci utama bagi seseorang untuk mengendalikan hawa nafsunya. Oleh karena itu tidaklah seseorang itu berbuat maksiat kecuali ketika imannya sedang lemah,
2. Sifat tamak dan rakus dan kenikmatan dunia. Hal ini sangat berpengaruh terhadap diri seseorang karena bisa menjadikannya menghalalkan segala macam cara untuk memenuhi keinginannya.
3. Gila akan jabatan dan kehormatan di masyarakat, sehingga ia rela mengorbankan apapun demi mendapatkannya.
Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam Tafsirnya (6/119) mengatakan bahwa para ulama tidak berbeda pendapat tentang keharaman risywah (suap). Bahkan banyak diantara mereka yang menukil adanya ijma’ akan keharamannya, seperti yang dinukil oleh imam asy-Syaukani rahimahullah (Nailul Author 4/595), Imam ash-Shon’ani rahimahullah (Subulus salam 1192), syaikh Alu Bassam hafidzahullah (Taudhihul Ahkam 7/118), dll
Umar bin Khaattab radliyallahu’anhu, Ibnu mas’ud radliyallahu’anhu dan lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan اَلسُّحْتُ adalah risywah (suap-menyuap). Hal ini semakna dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat al-Baqarah: 188 yang menjelaskan haramnya memakan harta orang lain dengan cara dzalim.
Dalil dari sunnah (hadits) Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam banyak sekali, diantaranya:dari Abu Hurairoh radliyallahu’anhu beliau berkata: ”Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat orang yang menyuap dan yang disuap dalam masalah hukum.” (HR. Ahmad: 2/386, at-Tirmidzi: 1336, Ibnu Hibban: 1196, dishahihkan al-Albani dalam al-Misykah: 3753)
Menyuap merupakan tindakan yang mendzalimi (merugikan) orang lain karena sebenarnya ia tidak berhak. Sedangkan Allah dan Rasul-Nya dengan tegas telah melarang kita untuk berbuat dzalim terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Syaikh Abdulloh bin Abdurrahman al-Bassam hafidzahullah mengatakan: ”Suap termasuk dosa besar karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat orang yang menyuap dan yang mengambil suap sedangkan laknat tidaklah terjadi kecuali pada dosa-dosa besar. ” (Taudhihul Ahkam: 7/119)
Kalau kita cermati, ternyata hadits-hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam itu bukan hanya mengharamkan seseorang memakan harta hasil suap-menyuap akan tetapi beliau juga melarang hal-hal yang bisa menyebabkan terjadinya suap-menyuap. Maka yang mengharamkan itu bukan hanya satu perbuatan saja akan tetapi tiga perbuatan sekaligus. Yaitu: pemberi suap, penerima suap, serta orang yang menjadi penghubung antara keduanya.(COPAS dari Abu Mas’ud al-Kadiry)
Berpijak pada hukum suap diatas, seluruh jajaran  APIP di lingkungan inspektorat Kabupaten Banjar bertekad untuk  menjadikan  Inspektorat sebagai Area Bebas Suap (ABS) yang ditandai dengan penandatangan PAKTA INTEGRITAS saat akan melaksanakan setiap tugas pemeriksaan. Dengan motto Tugas adalah Kehormatan, maka dengan pertolongan Allah SWT semua APIP Inspektorat Kabupaten Banjar akan menjaga kehormatan tersebut