MELAWAN KORUPSI DENGAN KETELADANAN

PhotobucketKasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan. Peribahasa ini ditunjukan dengan cara berbeda oleh Ellen Johnson Sirleaf, Presiden Liberia yang sekaligus seorang ibu. Tanpa pandang bulu Ellen memecat anaknya sendiri, Charles Sirleaf sebagai wakil direktur Bank Central bersama 45 pejabat pemerintah pusat dan provinsi "hanya" karena mereka tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk menyerahkan daftar kekayaannya kepada Komisi Pengawas Korupsi yang ada di negara itu. Komitmen sang presiden terhadap pemberantasan korupsi yang ditunjukan dengan ketegasan untuk memberikan sanksi kepada para pembantunya patut untuk diapresiasi, sebuah keteladanan pemimpin yang diharapkan dapat menular kebawah.  

Liberia adalah sebuah negara berbentuk republik yang terletak di pesisir barat Afrika yang berbatasan dengan Sierra Leone, Guinea, dan Pantai Gading dengan ibukota Monrovia. Republik Liberia bukanlah negara kaya, bahkan pernah dilanda perang saudara yang membuat sengsara rakyatnya. Melihat kondisi ini dan untuk mengejar ketertinggalan ekonomi, sudah sepatutnya seorang presiden harus memiliki komitmen kuat disertai tindakan untuk perang melawan "musuh baru" yang biasa tumbuh subur di negara berkembang yaitu Korupsi. Korupsi menciptakan ekonomi biaya tinggi yang berdampak pada kemelaratan rakyat

Dimasa lampau, ada juga kisah keteladanan yang berkembang di Jawa Tengah utara mengenai seorang Maharani legendaris yang menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kebenaran dengan keras tanpa pandang bulu. Kisah legenda ini bercerita mengenai Ratu Shima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak keras kejahatan pencurian (mengambil yang bukan haknya). Ia menerapkan hukuman yang keras yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri. Pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan ingin menguji atas kemashuran rakyat kerajaan Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum. Untuk itu, ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak ada sorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya. Selang beberapa tahun kemudian, kantung itu tersentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Mengetahui hal tersebut, Ratu Shima langsung menjatuhkan hukuman mati kepada putranya, hukuman tersebut jauh lebih berat dari yang seharusnya mengingat sang pangeran semestinyanya memberi teladan bagi rakyatnya. Rakyat yang mencintai Pangeran beserta dewan menteripun memohon agar Ratu mengampuni kesalahan putranya. Karena kaki sang pangeranlah yang menyentuh barang bukan miliknya, maka sang pangeran diputuskan dijatuhi hukuman potong kaki. Pangeran dengan rela menyerahkan kakinya untuk dipotong, tetapi sekali lagi rakyat memohon agar hukuman tersebut tidak dijalankan. Maka demi keadilan, Sang Ratupun akhirnya menjatuhkan hukuman potong jari bagi puteranya, dan rakyatpun menerimanya.

Dua kisah tersebut hendaknya menjadi inspirasi bagi para pemimpin di semua level. karut marutnya korupsi di Indonesia dapat kita lawan dengan salah satunya melalui keteladanan para pemimpin. Jangan sampai apa yang terjadi di Indonesia sekarang merupakan kondisi jaman yang dimaksud Nabi dalam sabdanya “… sesungguhnya kamu akan bertemu pemimpin yang mementingkan diri sendiri serta congkak sepeninggalku nanti …”.