WORKSHOP CSA-CEE SPI

Photobucket
Perubahan ekstern sangat memengaruhi ketidakpastian dalam melaksanakan kegiatan operasional dan mempengaruhi pencapaian tujuan yang ditetapkan. Untuk itu diperlukan adanya sistem pengendalian intern yang kuat sehingga meyakinkan tercapainya proses dan hasil kegiatan seperti yang diinginkan.  Amanat tersebut dituangkan dalam UU no.1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 58 ayat (1) dan (2) : Dalam rangka meningkatkan kinerja, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, Presiden selaku Kepala Pemerintah mengatur dan menyelenggarakan Sistem Pengendalian Intern di lingkungan pemerintah secara menyeluruh. SPI ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah 

Sistem Pengendalaian Intern Pemerintah (SPIP) berdasarkan PP 60/2008 Pasal 1 ayat 1 adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien,keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan Ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Sementara Unsur-unsur SPIP disebutkan dalam pasal 3 ayat 1 yaitu : (1) Lingkungan Pengendalian, (2) Penilaian Risiko, (3) Kegiatan pengendalian, (4) Informasi & komunikasi dan (5) Pemantauan

Untuk mengukur sejauh mana SPI dilaksanakan, maka digunakan Metode Control Self Assessment (CSA) atau penilaian Pengendalian Mandiri yang pertama kali dikembangkan oleh perusahaan Gulf Canada tahun 1987. Pendekatan CSA semakin banyak digunakan setelah terjadi beberapa kasus terkait skandal keuangan yang berakibat runtuhnya perusahaan penerbitan Robert.  CSA adalah suatu proses untuk menguji dan menilai efektivitas pengendalian intern yang bertujuan untuk memberi keyakinan bahwa tujuan organisasi akan tercapai.

Metode CSA yang digunakan untuk mengukur lingkungan pengendalian (soft control) adalah dengan Control Environment Evaluasi (CEE) yaitu mengevaluasi kondisi lingkungan pengendalian yang ada pada suatu organisasi dibandingkan dengan “kondisi ideal” (framework) dari masing-masing sub unsur dalam lingkungan pengendalian dan sebagai bahan bagi manajemen dalam perbaikan lingkungan pengendalian. 

Pendekatan CSA dilakukan melalui workshop, survei dan analisis manajemen. Namun ketiga pendekatan tersebut, workshop adalah pendekatan yang direkomendasikan. Kegiatan sosialisasi Workshop CSA-CEE yang dilakukan Inspektur Kabupaten Banjar sebagai tindak lanjut Workshop BPKP Perwakilan Kalimantan Selatan,dilaksanakan di Kantor Inspektorat Kabupaten Banjar bagi APIP dan di Aula Barakat Pemkab Banjar bagi SKPD dan para pejabat pembuat komitmen (PPK) pada tanggal 14 Pebruari 2013. 

Dalam kegiatan workshop CSA-CEE di lingkungan APIP Inspektorat Kabupaten Banjar, sekaligus dilakukan praktek sebagai fasilitator mengingat nanti para APIP di lingkungan Inspektorat Kabupaten Banjar akan ditugaskan sebagai fasilitator CEE-CSA di masing-masing SKPD yang menjadi wilayah kerjanya.