FGD RCSA BIDANG PERTAMBANGAN

 photo Distambem.gifSesuai MOU BPKP dan KPK dalam melakukan Koordinasi dan Supervisi Pencegahan Korupsi dalam bidang Pertambangan, maka pada hari Selasa tanggal 31 Juli 2013 bertempat di ruang aula Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Banjar diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Identifikasi Risiko Bidang Pertambangan yang dihadiri oleh Tim BPKP-Perwakilan Kalimantan Selatan dan Inspektur Kabupaten Banjar sebagai Fasilitator, dengan narasumber Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Banjar Ir. Mursal beserta jajaran dan juga pejabat dari Dinas Pendapatan Kabupaten Banjar. 


Pelaksanaan FGD Identifikasi Risiko Bidang Pertambangan dilakukan dengan metode CSA (Control Self Assesment).CSA adalah salah satu teknik ‘risk assessment’ yang dapat digunakan dengan beberapa keunggulan dalam penerapannya, terutama dalam membangun ‘risk culture’ yang sehat dan mendorong pendekatan ‘bottom-up’ dalam pelaksanaan manajemen risiko operasional suatu organisasi. Dalam beberapa literatur metode ini disebut juga dengan RCSA atau “Risk and Control Self Assessment”. 

Pada dasarnya, untuk mencapai tujuan organisasi/unit maupun kegiatan selalu dimungkinkan adanya risiko yang apabila tidak dilakukan kegiatan pengendalaian dapat mengganggu proses pencapaian tujuan. Untuk itu, dalam FGD RCSA Bidang Pertambangan tersebut terlebih dahulu disepakati tujuan organisasi yang akan dilakukan identifikasi risiko khususnya yang berkaitan dengan upaya pencegahan korupsi. 

Tujuan yang disepakati untuk dilakukan identifikasi risiko adalah Mewujudkan pengelolaan tambang yang memenuhi prinsip Good Mining Practice. Selanjutnya dilakukan proses penilaian risiko yang dilakukan secara obyektif, sistematis, serta independen dimana Kepala Distamben dan jajarannya yang dipandu fasilitator perperan aktif dalam menilai risiko dan mengevaluasi pengendalian atas kegiatan serta merumuskan penyempurnaan perbaikan guna membantu mencapai tujuan kegiatan. 

Dalam FGD RCSA terlihat bahwa Distamben Kabupaten Banjar telah banyak melakukan kegiatan pengendalian dalam mengurangi dampak bahkan mengantisipasi terjadinya risiko, namun demikian masih diperlukan kegiatan pengendalian lain pada risiko yang berdampak penting.