SATU PEMAHAMAN BAGI SATGAS SPIP

 photo spip-1.gif
Guna mempercepat penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dilingkungan Pemerintah Kabupaten Banjar sesuai Peraturan Bupati Nomor 515 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan SPIP di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Banjar, maka telah disusun desain program penyelenggaraan SPIP melalui pendampingan dengan BPKP Perwakilan Kalimantan Selatan. Sebagai quick win dari desain penyelenggaraan SPIP tersebut adalah penyamaan pemahaman SPIP bagi Pimpinan Satuan Tugas SPIP Pemerintah Kabupaten Banjar dengan para Kepala Satuan Tugas SPIP di masing-masing SKPD lingkup Kabupaten Banjar. Hal ini penting dilakukan agar nantinya pada masing-masing Satuan Tugas tidak terjadi perbedaan pendapat yang akan menghambat penyelenggaraan SPIP. 

Untuk kegiatan penyamaan pemahaman tersebut, Inspektorat Kabupaten Banjar memfasilitasi kegiatan Pendidikan dan latihan SPIP bagi pimpinat Satgas SPIP Kabupaten, para Kepala SKPD selaku Kasatgas SPIP SKPD dan Sekretarisnya melalui kesertaan pada diklat SPIP di Pusdiklatwas BPKP di Ciawi Bogor yang diselenggarakan pada tanggal 16 - 20 September 2013. 

Pembukaan Diklat dilakukan oleh Sekretaris Utama BPKP Ibu Meidyah Indreswari, M.Sc, Ph.D, CKM, CCSA. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa apabila suatu pekerjaan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran. Pesan tersebut sesuai dengan hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari. Manusia menjadi unsur penting dalam setiap kegiatan. Oleh karena itu, SPIP menetapkan sumber daya manusia sebagai sub unsur pertama dari Unsur kesatu Sistem Pengendalian Intern yaitu Lingkungan Pengendalian. 

SDM Aparatur harus memiliki integritas dan kompetensi, karena keduanya menjadi pondasi bagi pelaksanaan unsur dan sub unsur dalam SPIP. Inilah yang membedakan antara pengawasan melekat (Waskat) dengan SPIP. SPIP menempatkan unsur lingkungan pengendalian yang didalamnya terkait dengan SDM aparatur sebagai softcontrol. Softcontrol akan memperngaruhi 4 (empat) unsur lainnya yaitu penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi/komunikasi dan pemantauan. Semakin kuat lingkungan pengendalian, maka akan semakin sedikit risiko ang akan dihadapi. Dan demikian halnya dengan kegiatan pengendalian yang harus dilakukan untuk mengurangi bahkan menghilangkan risiko enjadi lebij sedikit. 

Secara umum, para peserta mulai memahami bahwa menyelenggarakan SPIP adalah satu hal yang amat penting. Namun, meski mereka merasa SPI adalah suatu proses yang sebetulnya sudah mereka lakukan dalam setiap kegiatan, tetapi bagaimana cara mendokumentasikan proses tersebut untuk membuktikan bahwa SPIP telah diselenggarakan ? darimana harus memulainya?.Apakah setelah semua unsur dan subunsur dalam SPIP sudah diselenggarakan, kemudian dapat diyakini bahwa proses pencapaian tujuan telah memadai ? Inilah pertanyaan-pertanyaan yag mungkin menjadi PR bagi pembina SPIP.