ORGIL TAK PERLU DIKASIHANI

 photo pkskeu.gif
Suatu hari, ketika saya dan isteri berpapasan dengan orang berpakaian compang camping denga tubuh kurus tak terawat sedang mangais makanan di tempat sampah, sesekali dia tertawa sambil mengunyah sisa-sisa makanan yang diperolehnya. Kontan isteri saya berucap "kasihan", tapi ucapannya langsung saya komentari bahwa "dia" tidak perlu dikasihani karena apa yang dia lakukan tanpa didukung kesadaran akal. Tuhan telah mengambil akal yang diamanatkan kepada "dia". Tanpa akal, "mungkin" dunia dan seisinya menjadi lebih lucu sehingga "dia" terlihat sering tertawa. Kita yang katanya masih memiliki akal menyebut "dia" sebagai orang gila (orgil). Orgil tak perlu belas kasihan, mereka telah berbahagia dengan dunianya sendiri Yang dibutuhkan orgil hanyalah perhatian. Bila orgil tak perlu dikasihani, lalu siapa yang perlu belas kasihan?

Yang perlu dikasihani adalah orang-orang yang mangaku dirinya waras karena masih punya akal, tetapi tak pernah menggunakan akalnya. Akalnya lebih banyak tunduk dengan nafsu yang suka semau-maunya sehingga hidupnya hanya penuh keluh kesah. Ilustrasi tersebut disampaikan oleh Inspektur sebagai pesan saat membuka Pelatihan Kantor Sendir (PKS) pada hari Jumat tanggal 13 September 2013 yang diikuti oleh pejabat struktural, Pejabat Fungsional Auditor, Pejabat Pengawas Pemerintan dan staf pendukung pengawasan di lingkungan Inspektorat Kabupaten Banjar. 

Pesan tersebut dimaksudkan untuk mendorong agar aparat inspektorat mengoptimalkan amanat akal yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan selalu belajar dan belajar sebagai wujud syukur atas amanahNya. Syukur seyogyanya tidak hanya diwujudkan dengan ucapan, tetapi perlu sebuah tindakan nyata. Mensyukuri atas nikmat akal adalah dengan menggunakan akal untuk meraup ilmu sebanyak-banyaknya dan kemudian ilmu tersebut digunakan pada jalan kebaikan sesuai dengan bidang pekerjaan masing-masing, bukan malah membuat kerusakan. Untuk mengoptimalkan akal agar mau belajar yang diperlukan hanya KEMAUAN. 

Melanjutkan pesan inspektur, langsung diisi dengan PKS oleh M. Firdaus Abdi dari Pejabat Fungsional Auditor Inspektorat Kabupaten Banjar dengan materi Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Adapun maksud dari penyelenggaraan PKS tersebut adalah untuk menjaga kesamaan pemahaman bagi para auditor dan APIP lainnya di lingkungan Inspektorat Kabupaten Banjar atas dinamika peraturan perundang-undangan khususnya berkaitan dengan keuangan. Diharapkan dengan adanya PKS tersebut, tidak ada lagi kesenjangan atas hasil pemeriksaan.