KEMANA KAKIMU KAU LETAKKAN

 photo malu.gif
Meski rakyat Indonesia telah berulangkali mengalami gempa moral, tetapi gempa terakhir yang melanda Mahkamah Konstitusi (MK) membuat tsunami yang meruntuhkan struktur bangunan kepercayaan rakyat atas penegakan hukum yang selama ini memang sudah rapuh. Penangkapan Hakim AM selaku ketua MK oleh KPK memang luar biasa, semakin luar biasa ketika dalam penggeledahan ruang kerja AM ditemukan juga narkoba. Yang menjadi tidak dimengerti adalah AM selama ini sering berbicara tentang moral dan dukungannya atas pemberantasan korupsi, bahkan diapun pernah mengusulkan agar koruptor di permalukan dengan potong jari tangan dan dimiskinkan. Tetapi apa yang diucapkan ternyata tidak sesuai dengan tindakannya. 

Banyaknya pejabat yang kata dan tindakannya tidak sama, membuat kepercayaan masyarakat menjadi goyah. Ini menjadi kegundahan inspektur saat melakukan rapat terbatas (ratas) dengan jajaran pejabat struktural di lingkungan Inspektorat kabupaten Banjar. Begitu besarnya ketidakpercayaan tersebut, sampai-sampai inspektur tidak percaya dengan dirinya sendiri. Jangan-jangan apa yang sering disampaikan berkaitan dengan integritas tidak dibarengi oleh tindakannya sendiri selaku pemimpin yang harus menjadi teladan. 

Akhirnya, ratas menjadi ajang saling ingat mengingatkan antara inspektur dengan para pejabat struktural untuk selalu memberi keteladanan, juga untuk konsisten terhadap kode etik termasuk etika penerimaan tamu. Selama ini telah diatur etika bertamu di Inspektorat Kabupaten Banjar yaitu membatasi akses para tamu dan melarang untuk menerima tamu di ruang kerja. Tak terkecuali bagi inspektur juga dilarang menerima tamu dalam kondisi pintu tertutup. Ini dilakukan agar semua aparat inspektorat dapat mengontrol siapa dan apa yang dilakukan inspektur dengan tamunya. 

Tamu yang dapat diterima inspekturpun hanya berkaitan dengan koordinasi dari aparatur pengawasan lainnya seperti BPK-RI dan BPKP atau dari Aparat Penegak Hukum. Dalam kondisi tertentu dapat menerima auditi tetapi harus didampingi oleh auditor dan pejabat struktural dengan kondisi pintu terbuka. Semua pembatasan merupakan upaya inspektur agar inspektur dibantu dalam mengontrol sikap dan perilakunya. Dan tentu saja yang penting juga adalah tidak menerima tamu yang terkait dengan pemeriksaan di rumah. 

Disampaikan juga oleh inspektur dalam ratas tersebut, menjadi pemimpin  berarti siap menginjakan satu kaki disisi neraka dan kaki lainnya di surga. Apa yang terjadi pada Hakim AM selaku pimpinan Lembaga Tinggi Penjaga keadilan, adalah pilihan dia untuk meletakan kedua kakinya di lubang neraka. Tetapi anehnya, banyak pejabat yang tidak mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.