SAMPLING AUDIT

 photo sampling.gif
Pengambilan sampel dalam pemeriksaan merupakan salah satu proses penting. Sampling audit adalah penerapan prosedur audit yang kurang dari 100% pada item-item dalam populasiyang bertujuan untuk mengevaluasi beberapa karakteristik populasi tersebut. Pemilihan sampel dari popuasi harus representatif (representative sample) yaitu sampel memiliki karakteristik hampir sama dengan yang dimiliki oleh populasi.ini berarti item item yang dijadikan sampel populasi serupa dengan item item yang tidak dijadikan sampel. 

Hasil sampel dapat menjadi nonrepresentatif akibat kesalahan nonsampling atau kesalahan sampling. Risiko dari dua jenis kesalahan yang terjadi tersebut disebut sebagai risiko nonsampling dan risiko sampling. Risiko nonsampling (nonsupling risk) adalah risiko bahwa pengujian audit tidak menemukan pengecualian yang ada dalam sampel. Sementara Risiko sampling (sampling risk) adalah risiko bahwa auditor mencapai kesimpulan yang salah karena sampel populasi yang tidak representatif. Risiko sampling adalah bagian sampling yang melekat akibat pengujian lebih sedikit dari populasi secara keseluruhan. Kedua risiko ini pada dasarnya dapat dikendalikan 

Prosedur audit yang dirancang dengan cermat, instruksi yang tepat, pengawasan, dan review merupakan cara untuk mengendalikan risiko nonsampling. Sedangkan untuk mengendalikan terjadinya risiko sampling adalah dengan menyesuaikan ukuran sample dan menggunakan metode pemilihan item sampel yang tepat dari populasi. Demikian disampaikan oleh inspektur dalam menghantarkan kegiatan Pelatihan Kantor Sendiri (PKS) tentang Sampling Audit dengan narasumber Indriana, SE, M.Si selaku Auditor Muda pada hari Jumat tanggal 22 November 2013 di Aula Inspektorat Kabupaten Banjar. 

Selanjutnya Indriana menjelaskan bahwa sampling digunakan pada pengujian pengendalian dan pengujian substantifatas transaksi untuk mengestimasi persentase item item dalam populasi yang memiliki karakteristik atau atribut kepentingan. Persentase ini disebut sebagai tingkat keterjadian (accurence rate) atau tingkat pengecualian (exception rate). Metode sampling audit dikategorikan dalam sampling statistik dan sampling nonstatistik. Keduanya dilakukan melalui tahapan perencanaan sampel, pemilihan sampel dan melakukan pengujian dan evaluasi hasil. 

Ketiga tahapan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan kesalahan nonsampling dan untuk menarik kesimpulan berdasarkan pengujian audit. Sampling statistik (statistical sampling) dilakukan secara matematis dengan mengkuantifikasi (mengukur) risiko sampling dalam merencanakan sampel dan evaluasi hasil. Sedang dalam sampling nonstatistik (nonstatistical sampling) tidak mengkuantifikasikan sampling, tetapi lebih pada judgement auditor. Oleh karena itu sampling nonstatistik sering kali disebut dengan sampling pertimbangan (judgemental sampling)