ABS

 photo ABS.gif
Berbicara korupsi, maka terlintas akan sepak terjang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menindak koruptor. Hampir semua lembaga di Indonesia terpapar korupsi, tak terkecuali KPK. Tercatat pada tahun 2006, KPK menangkap penyidiknya sendiri yang melakukan pemerasan. Sesungguhnya, memberantas korupsi tidak selalu melalui upaya penindakan, tetapi dapat dilakukan dengan cara pencegahan. Mencegah korupsi bukan hanya KPK saja yang bisa, tetapi siapapun dan dari instansi manapun dapat mencegah korupsi selama memiliki komitmen. 

Upaya pencegahan korupsi dapat dilakukan dengan berbagai cara, memperingati tanggal 9 Desember sebagai hari Anti Korupsi Sedunia merupakan salah satunya. Sebagai momen penting, peringatan tersebut dapat diisi dengan kegiatan sosialisasi, seminar bahkan dengan banyak kegiatan seni yang semuanya bertujuan untuk meng-edukasi masyarakat untuk berperilaku anti korupsi. Temapun menjadi penting dalam sebuah acara peringatan tersebut.

Sebenarnya mencegah korupsi dengan hanya mengandalkan sosialisasi, seminar apalagi tema yang mengharu biru tidak akan memiliki dampak signifikan terhadap penurunan korupsi. Indonesia seringkali hebat membuat acara seminar, sosialisasi beserta temanya, tetapi selalu kedodoran dalam implementasinya. Sudah berapa seminar dan sosialisasi tentang korupsi diadakan dengan menghabiskan biaya yang tidak sedikit, tetapi perilaku korupsi serasa tidak pernah berkurang. Bahkan mungkin ada korupsi di seminar atau sosialisasi korupsi, sama seperti anekdot "ada korupsi di penindakan korupsi". 

Korupsi merupakan perilaku menyimpang yang terkait erat dengan individu. Perlu sebuah komitmen yang kuat dari setiap individu untuk tidak melakukan korupsi. Oleh karena itu, Inspektorat Kabupaten Banjar membuat banner di webblog dengan tulisan STOP KORUPSI, MULAI DARI DIRI SENDIRI, SEKARANG JUGA, DEMI INDONESIA. Aksi yang dilakukan oleh inspektorat dalam mewujudkan tujuan yang diinginkan dalam banner tersebut adalah komitmen masing-masing individu untuk tidak menerima suap.

Mengapa upayanya hanya dengan tidak menerima suap? Suap yang diberikan "seolah" sukarela maupun dengan terpaksa merupakan cikal bakal atau virus penyebab penyakit korupsi. Ckarut marutnya korupsi di birokrasi umumya diawali dari suap, dan Inspektorat Kabupaten Banjar tidak ingin menjadi bagian keruwetan tersebut. Komitmen untuk tidak menerima suap selalu dipantau baik oleh diri sendiri, atasan langsung atau teman sejawat. Secara kelembagaan Inspektorat Kabupaten Banjar menyatakan sebagai AREA BEBAS SUAP (ABS).