KOTAK SUARA

 photo kotaksuara.gif
Sebagai media komunikasi dan informasi antar pegawai di lingkungan Inspektorat Kabupaten Banjar, rapat staf yang digelar setiap minggu tidak seharusnya didominasi oleh informasi yang sifatnya top down atau dari atasan ke bawahan. Ini disadari benar oleh inspektur, oleh karena itu untuk menjaring semua aspirasi dari bawah yang mungkin tak tersampaikan secara lisan pada saat rapat, maka telah ditempatkan satu kotak suara di depan ruang aula rapat Inspektorat Kabupaten Banjar. Tidak ada pembatasan atas materi atau isi tulisan yang boleh dimasukan ke dalam kotak suara. Bebas !. Bahkan juga tidak diwajibkan bagi yang memasukan suara hatinya untuk mencantumkan identitasnya.

Kebijakan tersebut diambil agar semua pegawai mempunyai kebebasan dalam mengungkapkan apa yang menjadi keinginan, ketidak setujuaan atas sebuah kebijakan tanpa harus ada rasa takut. Dengan demikian, diharapkan inspektur  akan memperoleh informasi sebenar-benarnya atas  situasi dan kondisi yang dipersepsikan oleh pegawai dalam melaksanakan tugas sehari-hari.

Komunikasi dan informasi yang disampaikan secara top down mempunyai risiko mengalami pembiasan yang diakibatkan perbedaan persepsi di bawah yang memang memiliki latar belakan intelektualitas, pendidikan, kebiasaan dan lingkungan yang berbeda. Kesenjangan persepsi ini kadang tidak terungkap karena adanya budaya ewuh pakewuh, oleh karena itu diperlukan sebuah media yang dapat memberikan kebebasan bagi semua pegawai untuk menyampaikan maksudnya yaitu melalui kotak suara.

Dalam rapat staf mingguan yang dilaksanakan hari jumat tanggal 14 Maret 2014, untuk pertama kali aspirasi melalui media kotak suara dibuka dan di bacakan dalam rapat. Agar tidak mengalami editing maka ditunjuk sebagai pembaca aspirasi adalah Koordinator Jabatan Fungsional Tertentu (KJFT) Yusriansyah. Apapun yang menjadi maksud dari aspirasi tersebut, maka menjadi kewajiban inspektur untuk menanggapi, menjelaskan kembali atau menerima/menolak apabila itu berkaitan dengan saran.

Dengan adanya kotak suara tersebut, komunikasi rapat staf mingguan tidak lagi hanya bersifat top down tetapi juga bottom up. Bagi Inspektur, kotak suara membantu inspektur untuk mengetahui kondisi sebenarnya dalam rangka membuat dan memperbaiki kebijakan, untuk selanjutnya disampaikan secara tepat sehingga tidak ada kesenjangan persepsi. Disisi lain. para pegawai inspektorat tidak perlu lagi ewuh pakewuh menyampaikan aspirasi bahkan kritik, saran maupun ketidakpuasan karena tidak diketahui identitasnya.