AUDIT BERBASIS RISIKO

 photo AUDITBERBASISRISIKO.gifSebagai seorang ahli Fisika Modern, ALBERT EINSTEIN pernah menyatakan bahwa YANG PASTI di dunia ini adalah KETIDAKPASTIAN. Dalam ilmu manajemen, kondisi ketidakpastian merupakan risiko yang harus dikelola melalui pengukuran, tindakan dan pelaporan yang memadai dalam satu area proses. Bagi Aparat pengawas, menilai kemampuan obyek pemeriksaan (obrik) dalam mengukur risiko, merespon dan melaporkan menjadi pertimbangan penting dalam menentukan tingkat ketelitian, menambah prosedur atau menambahkan waktu analisis. Sementara itu, bagi pimpinan APIP, kemampuan obrik dalam mengelola risiko dapat digunakan untuk menentukan prioritas berdasarkan analisis risiko ini dianggap paling tepat dalam upaya mengalokasikan waktu dan SDM pengawasnya yang terbatas. 

Audit berbasis Risiko (ABR) atau Risk Based Audit merupakan metode audit yang dikembangkan sejak tahun 2000-an. Tujuannya adalah untuk memberikan jaminan bahwa risiko telah dikelola di dalam batasan risiko yang ditetapkan manajemen. Metode ini dianggap paling efektif untuk kondisi lingkungan yang serba tidak pasti. Indonesia telah meratifikasi ketentuan untuk menerapkan International Standards on Auditing (ISA) mulai awal tahun 2013. ISA sepenuhnya mengadopsi pendekatan Audit Berbasis Resiko yang mengandung 3 (tiga) langkah kunci yaitu Risk Assessment (Penialain Risiko), Risk Response (Merespon Risiko) dan Report (Pelaporan).    

Saat ini penerapan ABR bagi aparat pengawas menjadi penting. Oleh karena itu, Inspektorat Kabupaten Banjar mencoba mengembangkan penerapannya dalam Standart Operating Procedure (SOP)-nya. Bahwa metode ABR lebih dikenal oleh para Pejabat Fungsional Auditor yang memang diberikan pelatihan tentang materi tersebut di Pusdiklat BPKP, sementara itu metode tersebut belum begitu dikenal oleh  pejabat fungsional P2UPD maupun Auditor Kepegawaian yang keberadaannya ada di Inspektorat Kabupaten Banjar. 

Oleh karena itu, dalam SOP Inspektorat Kabupaten Banjar diterapkan pendekatan ARB untuk semua Pejabat Fungsional Tertentu yang melakukan Pengawasan dalam bidangnya masing-masing agar tidak terjadi kesenjangan mutu pelaporan. Demikian disampaikan oleh Inspektur dalam memgawali Pelatihan Kantor Sendiri (PKS)tentang Audit Berbasis Risiko (ARB) pada hari Rabu Tanggal 2 April 2014. 

PKS ARB disampaikan oleh Indriana, SE,M.Si selaku Auditor Muda Inspektorat Kabupaten Banjar yang baru selesai mengikuti Diklat Audit Berbasis Risiko di Pusdiklatwas BPKP di Ciawi Bogor. Sesuai dengan SOP Diklat di lingkungan Inspektorat diatur bahwa setiap PNS yang telah selesai mengikuti diklat wajib untuk mem-PKS kan di depan aparat pengawas lainnya. Dengan demikian, materi yang diperoleh selama mengikuti diklat dapat diterima juga oleh aparat lainnya. Disampaikan oleh Indriana, secara umum pendekatan ABR telah dilaksanakan di Inspektorat Kabupaten Banjar dalam SOP-nya yang menjadi pedoman bagi seluruh fungsional yang ada.