PENGUATAN KARAKTER

 photo KARAKTER.gif
Para pendiri bangsa Indonesia tentu berkeinginan agar Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika mampu mandiri baik secara ekonomi maupun budaya selepas 350 tahun dijajah bangsa asing. Menghidupkan tanah, negeri, bangsa dan rakyat Indonesia secara mandiri harus lebih dulu membangun jiwa untuk kemudian fisiknya. Keinginan ini tersurat dan tersirat dalam Lagu Kebangsaaan Indonesia Raya. Lalu apakah setelah sekian puluh tahun merdeka kita telah menjadi bangsa yang mandiri ? Banyak orang menganggap bahwa kita belum menjadi bangsa yang mandiri, di bidang ekonomi meski kita memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah baik di darat maupun lautan tetapi sektor ekonomi unggulan sebagian besar dikuasai asing termasuk perbankan. Pengaruh ekonomi pun berimbas pada budaya, kapital menjadi alat ampuh dalam mempengaruhi perubahan budaya. 

Kemandirian di bidang kebudayaan dihadapkan pada suatu yang pelik dan kompleks. Di satu pihak, ada idealisme agar kebudayaan Indonesia berbasis lokal genius tidak tergusur, di pihak lain globalisasi dan pasar bebas menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Menghindari pengaruh kekuatan asing di era globalisasi tanpa batas harus diimbangi dengan kekuatan karakter bangsa Indonesia. 

Membangun jiwa melalui penguatan karakter harus dimulai sejak bangku sekolah, Karakter dibentuk dan ditumbuhkan melalui proses belajar dalam kehidupan. Artinya karakter yang baik itu bisa dimiliki oleh semua orang dengan memperbaiki kelemahannya, serta memunculkan kebiasaan positif yang baru. Namun tak dapat dipungkiri bahwa praktik pendidikan di bangku sekolah saat ini lebih berorientasi pada pendekatan kognitif atau lebih mendahulukan membangun fisik di banding afektif atau membangun jiwa. 

Bagi pemegang kebijakan sepertinya mengukur prestasi anak didik melalui nilai lebih mudah dibandng dengan menilai sikap dan karakter anak. Oleh karena itu ujian Nasional yang sekarang masih sebagai alat ukur pendidikan menjadi hal yang wajib adanya. Yang terjadi kemudian adalah, ketika karakter dan sikap anak didik dan lingkungannya belum terbangun, maka yang terjadi adalah muncul potensi kecurangan dengan berbagai modus dalam pelaksanaan Ujian Nasional "hanya" demi nilai terbaik .

Kepintaran tidak selalu segaris dengan kemajuan peradaban, ketika kepintaran tidak diimbangi dengan sikap dan karakter yang baik, maka dimanapun orang itu berada yang dihasilkan hanyalah kerusakan demi kerusakan. Demikian disampaikan oleh Inspektur dalam rapat staf minggunan yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2014. Oleh karena itu memperkuat karakter atau membangun jiwa adalah kunci penting agar kita bisa menjadi bangsa yang mandiri. 

Secara pribadi dan kelembagaan, Inspektorat dan aparatnya tidak mungkin akan mengubah Indonesia. namun dengan penguatan karakter melalui komitmen yang dibangun berdasarkan etika dan integritas yang konsisten antara ucapan, tulisan dan perbuatan diharapkan masing-masing aparat Inspektorat Kabupaten Banjar mampu menjadi agen perubahan. Dalam kesempatan tersebut inspektur menugaskan kepada Irban wilayah III dan Auditor Kepegawaian Madya menyiapkan bahan In House Training berkaitan dengan penerapan Kurikulum pendidikan 2013 yang lebih memberi ruang untuk penguatan karakter.