AUDIT INVESTIGASI

 photo INVESTIGASI_zpshesod4d5.gifSalah satu fungsi pengawasan yang dilakukan oleh Inspektorat adalah melakukan audit. Audit atau pemeriksaan dalam arti luas bermakna evaluasi terhadap suatu organisasi, sistem, proses, atau produk. Audit dilaksanakan oleh pihak yang kompeten, objektif, dan tidak memihak, yang disebut auditor. Tujuannya adalah untuk melakukan verifikasi bahwa subjek dari audit telah diselesaikan atau berjalan sesuai dengan standar, regulasi, dan praktik yang telah disetujui dan diterima. Sementara itu yang dimaksud Audit Investigasi adalah proses pengumpulan dan pengujian bukti-bukti terkait kasus penyimpangan yang berindikasi merugikan keuangan Negara dan / atau perekonomian Negara, untuk memperoleh kesimpulan yang mendukung tindakan litigasi dan/atau tidakan korektif manajemen. Audit Investigasi dapat dilaksanakan atas permintaan Kepala Daerah dan Aparat Penegak Hukum. Audit Investigasi termasuk didalamnya audit dalam rangka menghitung kerugian keuangan Negara, audit hambatan kelancaran pembagunan, audit eskalasi audit klaim. 

Untuk mendapatkan hasil investigasi yang maksimal, seorang fraud auditor harus juga menguasai beberapa teknik investigasi, antara lain teknik penyamaran atau teknik penyadapan, teknik wawancara dengan persuasif atau dengan memakai kesanggupan sendiri atau dengan bantuan orang lain untuk mendapatkan informasi, memperhatikan bahasa tubuh, dan atau dengan menggunakan bantuan software, seperti CAAT (computer assisted audit tools). Proses audit investigasi lebih mirip dengan pekerjaan penyelidikan atau penyidikan kepolisian maupun kejaksaan. Demikian disampaikan oleh Inspektur Kabupaten Banjar dalam mengantarkan Pelatihan kantor Sendiri (PKS) tentang Audit Investigasi dengan narasumber Drs. H. Sakarani Arif selaku Irban I dan Drs. H. Nuzuliman selaku Irban IV. 

Tahapan dalam audit investigasi meliputi pertama Tahap Pra Perencanaan sebagai respon terhadap sinyalemen atau informasi awal yang masuk ke unit kerja investigasi. Sinyalemen awal atau informasi awal ini bisa merupakan pengaduan masyarakat, tindak lanjut terhadap rekomendasi temuan pemeriksaan operasional, informasi dari media massa, maupun permintaan dari pimpinan untuk melakukan audit investigasi atau audit tertentu. Pengaduan masyarakat biasanya belum memuat informasi yang spesifik namun masih bersifat general dan tendensius. Sehingga informasi awal ini perlu terlebih dahulu dianalisis atau ditelaah agar permasalahaannya dianggap layak atau tidak untuk (selanjutnya) dilaksanakan audit investigatif. 

Kedua adalah Tahap Perencanaan untuk menyusun hipotesis berdasarkan hasil analisis dari berbagai kemungkinan penyimpangan yang dikembangkan berdasarkan hasil analisis dari berbagai kemungkinan penyimpangan yang dikembangkan berdasarkan informasi yang tersedia, dan atas jawaban dari pertanyaan : siapa , apa, mengapa, di mana, bilamana, dan bagaimana (SIABIDIBA) yang dihasilkan dari kegiatan penelaahan awal. Selain menyusun hipotesis, dalam tahapan ini juga berbicara tentang penyusunan program audit, perencanaan sumber daya dan penerbitan Surat Tugas. 

Tahap ketiga Pengumpulan Bukti yang merupakan bagian terpenting dalam audit investigasi untuk mengungkap suatu kasus penyimpangan tindak pidana korupsi. Audit investigatif biasanya akan bermuara pada proses hukum, maka auditor investigasi diharapkan mampu memahami bukti-bukti apa saja yang bisa dianggap sebagai bukti hukum. Tidak semua bukti audit bisa diakui dan digunakan sebagai bukti hukum persidangan. Untuk dapat memperoleh bukti-bukti, auditor diharapkan mampu memahami teknik-teknik pengumpulan bukti. Teknik-teknik pengumpulan bukti audit investigatif tidak jauh berbeda dengan teknik pengumpulan bukti audit operasional. 

Keempat adalah tahap Evaluasi Bukti yang telah dikumpulkan melalui penerapan berbagai teknik audit selanjutnya akan dianalisis untuk melihat kesesuaian bukti dengan hipotesis. Melalui analisis bukti selanjutnya dikembangkan dan dicari bukti-bukti lainnya yang dapat digunakan untuk mendukung bukti yang telah kita dapatkan sebelumnya. Analisis bukti dapat menggambarkan sebuah rangkaian kejadian atau peristiwa . Rangkaian beberapa analisis bukti akan mampu memberikan gambaran secara keseluruhan peristiwa yang terjadi. Rangkaian analisis bukti ini selanjutnya kita evaluasi secara berkala untuk mengetahui apakah ada kesesuaian dengan hipotesis yang telah kita bangun. Dalam tahap evaluasi bukti ini, memungkinkan adanya perubahan hipotesis apabila hasil evaluasi bukti tidak mendukung hipotesis sebelumnya namun mengarah pada permasalahan yang sebelumnya tidak kita perkirakan. Hasil evaluasi bukti inilah yang akan menentukan apakah kasus tersebut terbukti atau tidak. 

Dan tahap terakhir Pelaporan dengan menyampaikan proses dokumentasi yang disusun dalam bentuk laporan tertulis. Penyusunan Laporan Audit Investigatif ini juga merupakan bukti bahwa auditor investigasi telah melakukan tugasnya sesuai dengan prosedur yang telah berlaku. Pelaporan ini harus mampu mengungkapkan fakta-fakta yang ada dan menghindari sejauh mungkin mangungkapkan hal-hal yang masih bersifat subyektif dan bias. Laporan yang baik harus mampu menjawab SIABIDIBA ( siapa , apa, mengapa, di mana, bilamana, dan bagaimana ). Hasil laporan tersebut perlu di tindaklanjuti secara proporsional oleh pihak yang bertanggungjawab dalam kasus tersebut. Demikian disampaikan materi audit investigasi oleh kedua narasumber tersebut.