PELATIHAN FA1

 photo PELATIHAN FA1_zps9uwl6x2s.gif
Tuntutan masyarakat akan peningkatan peran seluruh pemangku kepentingan (stake holders) dalam mendeteksi dan mengungkap terjadinya tindak kecurangan (fraud) semakin besar. Meningkatnya kompleksitas bisnis maupun tatakelola pemerintahan, telah menuntut perubahan paradigma peran auditor internal dalam kerangka pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) maupun Good Governance (GG). Kebutuhan akan kemampuan auditor internal mampu melaksanakan akuntansi forensik, audit atas tindak kecurangan (fraud auditing) dan pelaksanaan investigasi tidak hanya dalam kerangka kepatuhan terhadap peraturan/ketentuan, tetapi juga dalam rangka membantu manajemen mengelola risiko bisnis melalui pembentukan lingkungan yang mendukung: pendeteksian, pencegahan dan pengungkapan tindakan kecurangan. Manfaat pencegahan, pendeteksian dan pengungkapan tindak kecuarangan dalam bisnis mencakup segala langkah dan upaya hal yang dapat membantu manajemen meningkatkan dan memperbaiki pencapaian kinerja perusahaan yang telah ditetapkan. Untuk maksud tersebut, Inspektur Kabupaten Banjar mengikuti Pelatihan Fraud Auditing 1 yang diselenggaran oleh Lembaga Pengembangan Fraud Audit (LPFA) di Jakarta.

Kegiatan hari pertama dimulai  dengan 2 (dua) materi yaitu Overview Fraud oleh Drs. Soekardi Hoesodo, M.Soc. Sc, CFE selama 5 jam latihan dan Financial Transaction and Fraud Schemes oleh Agustina Arumsari, Ak, MH, CFE, CfrA, CA selama 5 jam latihan. Materi Overview Fraud berisi tentang pengenalan fraud atau kecurangan yang merupakan tindakan penyimpangan yang sengaja dilakukan atau tindakan pembiaran yang dirancang untuk mengelabui / menipu / memanipulasi pihak lain sehingga pihak lain menderita kerugian dan / atau pelaku kecurangan memperoleh keuntungan keuangan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sementara dalam materi Financial Transaction and Fraud Schemes disampaikan tentang karakteristik Fraud yang meliputi deception/trickery (pengelabuan), hidden (tersembunyi), intentionally (niat) dan damage (menimbulkan kerugian) yang diwujudkan dalam perbuatan (actus reus) dengan diawali niat (mens rea). 

Hari kedua diisi 2 (dua) materi yaitu Persiapan dan Perencanaan Penugasan Investigasi oleh Randy Rizki, CFE selama 5 jam latihan dan Teknik Investigasi dan Pembuktian oleh Randy Rizki, CFE selama 5 jam latihan. Dalam materi Persiapan dan Perencanaan Penugasan Investigasi dijelaskan tentang proses persiapan audit investigasi dari mulai penerimaan informasi awal yang berasal dari laporan/pengaduan yang kemudian ditelaah untuk menentukan hipotesis. Apabila dari hipotesis ditemukan adanya indikasi adanya fraud maka dilanjutkan dengan tahap perencanaan yang mencakup semua kemungkinan yang mendasari dugaan terjadinya kecurangan dan penyebabnya melaui identifikasi masalah yang dirancang untuk mengidentifikasi dan mengkonfirmasi suatu masalah tetapi bukan untuk memberikan gambaran penuh atas semua aspek kesalahan. 

Dalam perencanaan tersebut auditor harus menetapkan tujuan audit, penentuan ruang lingkup, penentuan tim audit, penyusunan program audit, penyusunan anggaran waktu dan biaya audit. Untuk materi Teknik Investigasi dan Pembuktian dijelaskan bahwa Teknik investigasi untuk pengungkapan sejak awal peristiwa/ kejadian/transaksi yang dapat memberikan cukup keyakinan; serta dapat digunakan sebagai bukti yang memenuhi pemastian suatu kebenaran dalam menjelaskan kejadian yang telah diasumsikan sebelumnya dalam rangka mencapai keadilan. Investigasi didasarkan pada penilaian logis terhadap individu dan segala sesuatu/benda yang terkait dengan perbuatan fraud. Individu mencakup; korban, pelapor, saksi, pelaku (subyek wawancara). Benda mencakup; sarana dan segala jenis peralatan yang terkait untuk melakukan perbuatan fraud (subyek pembuktian fisik). 

Dalam pelaksanaan investigasi diarahkan untuk menentukan kebenaran permasalahan melalui suatu proses pengujian, pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti yang relevan dengan perbuatan fraud, dan untuk mengungkapkan fakta-fakta fraud mencakup adanya perbuatan fraud (Subyek), mengidentifikasi pelaku fraud (Obyek), menjelaskan modus operandi fraud (Modus), mengkuantifikasi nilai kerugian dan dampak yang ditimbulkannya. Teknik pembuktian melaui Audit dilakukan dengan wawancara (untuk mendapatkan bukti kesaksian), penghitungan (memiliki keandalan bukti yang tinggi), Vouching (menguji kebenaran jumlah dengan sumber bukti), Tracing, Observasi dan Inspeksi, Scanning, Review Analitis, Bagan Arus, Grafik dan kuesioner. 

Hari ketiga diisi 2 (dua) materi yaitu Fraud dan Teknologi Sistem Informasi oleh Harry N. Affandi, Ak, MBA, CISA selama 5 jam latihan dan Physhocology Criminal dan Perilaku Menyimpang oleh Lisyiani Aslim selam 5 jam latihan. Dalam materi Fraud dan Teknologi Sistem Informasi dijelaskan perihal investigasi dalam lingkungan digital yaitu Pertama tentang Digital Forensik yaitu investigasi untuk mencari bukti telah terjadinya kejahatan dengan cara melakukan investigasi terhadap perangkat komputer (media penyimpan, memory, log file dll), hi-tech crime atau bukti tersembunyi traditional crime yang melibatkan komputer. Kedua tentang analisa Laporan Keuangan dengan melakukan analisa rasio dan metode lain untuk menemukan apakah telah terjadi manipulasi pada laporan keuangan perusahaan. 

Dan ketiga Forensic Analytics untuk mencari indikasi anomali dan fraud dengan menganalisa data (catatan akuntansi) yang disimpan dalam format digital (database). Sedangkan materi Physhocology Criminal dan Perilaku Menyimpang dijelaskan tentang perilaku seseorang sebagai cara berpikir dan merasa mengenai seseorang atau sesuatu yang direfleksikan melalui perbuatan. Setiap individu memiliki proses pemaknaan yang unik karena dipengaruhi oleh banyak faktor internal yang membentuk suatu respon tertentu yang menghasilkan suatu tindakan atau perilaku tertentu. Perilaku menyimpang merupakan perilaku yang meninggalkan standard yang berlaku dan diterima secara umum, kemelesetan dari norma-norma, ukuran yang berbeda daripada nilai yang sudah dianggap tetap oleh rata-rata orang. 

Hari keempat disampaikan 2 (dua) materi yaitu Aspek Hukum dalam Fraud oleh Adnan Paslyadja, SH selama 5 jam latihan dan Penyusunan Modus Operandi dan Pelaporan Audit Investigasi oleh Drs. Nasib Padmomihardjo, Ak selama 5 jam latihan. Untuk materi Aspek Hukum dalam Fraud dijelaskan tentang bukti permulaan, bukti dan alat bukti dalam perkara hukum pidana. Untuk membuktikan ada tidaknya dugaan tindak pidana/pelanggaran, dibutuhkan bukti permulaan, berupa Laporan / pengaduan, keterangan / konfirmasi, salinan surat / dokumen / pembukuan, barang bukti, audit investigasi. 

Guna menentukan jenis tindak pidana dan tersangkanya hanya dengan bukti berupa laporan / pengaduan, surat (telah disita secara sah), BAP saksi, BAP / laporan ahli, BAP tersangka, Barang bukti (setelah disita secara sah) minimal dua bukti yang saling bersesuaian. Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya 2 alat bukti yang sah iya memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Alat bukti yang sah adalah keterangan saksi. keterangan ahli, Surat, Petunjuk dan Keterangan Terdakwa. 

Sementara untuk materi Penyusunan Modus Operandi dan Pelaporan Audit Investigasi dijelaskan tentang faktor yang menyebabkan terjadinya fraud yaitu Intent (Niat, Sengaja), Motive (Alasan), Opportunity (Kesempatan), Concealment (Penyembunyian), Rationalization (Pembenaran). Kecurangan adalah sesuatu yang mungkin terjadi bahkan dalam sistim akuntansi dengan pengendalian yang ketat. Bagian yang terlihat dari suatu kecurangan transaksi dapat melibatkan sejumlah uang kecil, tapi bagian yang tidak terlihat dapat melibatkan sejumlah besar uang. Tanda bahaya kecurangan dapat dilihat apabila seseorang melihatnya cukup lama dan cukup dalam. 

Pelaku kecurangan dapat datang dari berbagai lapis manajemen atau masyarakat. Beberapa tips dalam menyusun laporan investigasi adalah mengetahui pembacanya (antara lain jaksa, hakim, internal perusahaan dan media ). Untuk mengkomunikasikan hasil pemeriksaan dan dokumen yang diperoleh. Ketepatan waktu, persiapkan laporan interim dan final tanpa ditunda. Menggunakan bahasa yang jelas dan sederhana. Memilih kata yang hati-hati karena laporan tertulis mengungkapkan informasi untuk penasehat hukum dan pihak ketiga yang merugikan. Memelihara/memegang kenetralan serta menggunakan antara lain diagram, matrik agar pembaca faham