FRAUD AUDTING 2

 photo FRAUD AUDITING 2_zpsbc8b5rgr.gif
Untuk memperdalam pelatihan Fraud Auditing 1, maka pada tanggal 15 - 18 Desember 2015, Inspektur Kabupaten Banjar mengikuti pelatihan Fraud Auditing 2 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Fraud Audit (LPFA). LPFA sebagai Lembaga pelatihan profesi yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan corporate di sektor privat dan pemerintah dalam mengelola Fraud melalui Pencegahan (prevention), Deteksi (detection), Investigasi (Investigation) dan proses hukum di pengadilan (litigasi), memiliki sumber daya narasumber dari berbagai profesi yang berpengalaman cukup luas dengan gelar profesi mereka yang diakui baik nasional maupun internasional seperti CFE (Certified Forensic Examination), CFrA (Certified Forensic Audit), CRMP (Certified Risk Management Profesional) dan CA (Chartered Accountant). 

Delapan Materi yang disampaikan selama empat hari yaitu pertama tentang Fraud Risk Assesment, Fraud Prevention and Detection dan kedua tentang Simulasi Invesment Fraud dan Pembiayaan yang disampaikan oleh Nurhayanto, Ak,MM,CRMP,CFrA,CA, ketiga tentang simulasi Fraud Pengadaan Barang dan Jasa oleh Ika Gunawan, Ak,MM,CA, Keempat tentang Teknik Wawancara Permintaan Keterangan dan BAPK oleh Agustina Arumsari, Ak,MH,CFE,CFrA,CA, kelima tentang Simulasi Fraud Laporan Keuangan dan Penyalahgunaan asset oleh Randy Rizki, CFE, keenam tentang Pelaksanaan Investigasi dan Proses Pembuktian (metode,teknik dan prosedur) oleh Lukman Hakim, Ak,CFE, Ketujuh tentang Asset Tracing ang Recovery oleh Patrick Irawan, M.Ak,CFE dan kedelapan tentang Simulasi dan Praktik Penyusunan Modus Operandi dan Pemaparan Intern oleh Drs. Nasib Padmomihardjo, Ak selaku mantan Deputi Kepala BPKP Bidang Investigasi. 

Fraud Risk Management dan Fraud Prevention, Detection membahas tentang 4 pilar Fraud Risk Assesment (FRA) yaitu pilar pertama Pencegahan (prevention), pilar kedua deteksi (Detection), pilar ketiga investigasi, pelaporan dan sanksi serta pilar keempat pemantauan, evaluasi dan tindak lanjut. Adapun manfaat FRA bagi organisasi adalah memberikan bukti penerapan tata nilai dan integritas korporasi, menciptakan sarana deteksi dini dan Pencegahan, Fraud mengamankan aset dan Reputasi korporasi, menghindari kejutan‐kejutan terjadinya insiden fraud yang tidak dikehendaki, menjawab atensi dari Auditor Eksternal dan Direksi, meminimalkan potensi timbulnya tuntutan hukum. sementara Proses prevention dilakukan melalui sosialisasi, internalisasi dan eksternalisasi. Eksternalisasi dilakukan dengan mengkomunikasikan kebijakan tentang perilaku maupun prosedur operasi kepada seluruh pemangku kepentingan. 

Untuk materi Fraud di bidang Investasi dan pembiayaan melalui pendekatan studi kasus seperti dilakukan oleh Mr. Ponzi yang mengenalkan pertama kali bisnis investasi mirip Multi Level Marketing (MLM). Skema Fraud model Mr. Ponzi ini bisa berjalan cukup lama dikarenakan menawarkan gain yang normal‐normal saja, hasil relatif kecil tetapi stabil, lebih besar dibanding yang lain, tapi tidak tinggi sekali untuk menarik investor dan tidak menimbulkan kecurigaan. sekali‐sekali menolak calon investor jumlah besar serta imbal hasil disesuaikan dengan perkembangan return yang terjadi pada pasar riil. Sedangkan untuk kasus pembiayaan terjadi pada pencairan deposito oleh pihak yang tidak berhak, rekayasa pemindahan dana nasabah, rekayasa pemberian kredit, penyalahgunaan pemberian kredit dgn agunan deposito (cash collateral loan/CCL), pembelian obligasi repo fiktif, pembelokan perintah transfer dana, ekspor fiktif dan serta pemusnahan dokumen & pencurian uang bank. 

Materi ketiga tentang fraud dalam pengadaan barang dan jasa dimulai dari proses perencanaan, pembentukan kelompok kerja pengadaan atau penunjukan pejabat pengadaan, penetapan sistem pengadaan, penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan, penyusunan harga perkiraan sendiri (HPS), penyusunan dokumen pengadaan barang/jasa, pengumuman dan pendaftaran pelelangan, tahap kualifikasi penyedia barang/jasa dan pengambilan dokumen pemilihan penyedia barang/jasa, penjelasan lelang, penyampaian dan pembukaan dokumen penawaran, Evaluasi penawaran, pembuktian kualifikasi dan pembuatan berita acara hasil pelelangan, penetapan dan pengumuman lelang, sanggahan peserta lelang dan pengaduan masyarakat, penandatanganan dan pelaksanaan kontrak, penyerahan barang/jasa dan pembayaran pekerjaan. 

Materi Investigative interview Skill berkaitan dengan Teknik investigative yang dilakukan dengan cara memeriksa Fisik (Physical Examination), meminta Konfirmasi (Confirmation), memeriksa Dokumen (Documentation), Reviu Analitikal (analytic review), meminta Informasi Lisan atau tertulis dari Auditan (inquiries of the auditee), menghitung kembali (reperformance) dan mengamati (observation). Proses permintaan informasi dilakukan dengan mempelajari berkas, menetapkan tujuan informasi yang akan digali dalam wawancara, mempelajari informasi apa yang dapat diperoleh, mempersiapkan poin‐poin yang akan ditanyakan, mempersiapkan tempat untuk wawancara. Untuk Simulasi Fraud Laporan Keuangan (Fraudulent statement) dan Penyalahgunaan asset (Asset misappropriation) membahas tentang Fraudulent statement meliputi cash dan non cash yang dimaksudkan untuk menyembunyikan kinerja bisnis yang sesungguhnya, mempertahankan status personal/control, mempertahankan pendapatan pribadi / kekayaan.

Cara yang dilakukan dalam Fraudulent Statement diantaranya adalah dengan sengaja tidak melakukan penutupan buku diakhir periode (untuk melakukan perubahan-perubahan tanpa perlu adjustment), sengaja menaikan nilai penjualan menjelang penutupan buku, untuk kemudian di adjust setelah periode berlalu, sengaja memundurkan tanggal kontrak (PO) penjualan, memasukan nilai penjualan yang lebih besar dari kenyataannya, tidak mencatat dan menghilangkan bukti transaksi penjualan agar laba nampak kecil (untuk penghindaran pajak), dengan sengaja memasukaan jenis penjualan non- operasional ke kelompok pendapatan opersional, atau sebaliknya, memanipulasi angka diskon atau rabat, membuat estimasi barang kembali, melakukan perubahan harga dan jenis konsesi lainnya, mengakui nilai pembelian aset bersih lebih tinggi dari kesepakatan yang sesungguhnya, dalam proses merger dan akuisisi, mengakapitalisasikan suatu biaya (kedalam aset) yang seharusnya tidak dikapitalisasi serta mengakui sewa pembiayaan sebagai biaya sewa, untuk menghindari pengakuan kewajiban sewa. 

Sedangkan simulasi pelaksanaan investigasi dan proses pembuktian. Pendekatan investigasi didasarkan pada penilaian logis terhadap individu dan segala sesuatu/benda yang terkait dengan perbuatan fraud Individu mencakup; korban, pelapor, saksi, pelaku (subyek wawancara), benda mencakup; sarana dan segala jenis peralatan yang terkait untuk melakukan perbuatan fraud (subyek pembuktian fisik). Pengungkapan sejak awal peristiwa/ kejadian/transaksi yang dapat memberikan cukup keyakinan; serta dapat digunakan sebagai bukti yang memenuhi pemastian suatu kebenaran dalam menjelaskan kejadian yang telah diasumsikan sebelumnya dalam rangka mencapai keadilan dengan mencari kebenaran yang sesungguhnya. 

Materi ketujuh tentang Asset Tracing dan Recovery merupakan overviu tentang PPATK sebagai Financial Intelegence Unit (FIU) Indonesia. PPATK berdasarkan Undang Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) merupakan kebutuhan bagi dunia internasional dan dalam negeri Indonesia dalam rangka memberantas Tindak Pidana Pencucian Uang. Sebagai Pusat Pelaporan Data dan Transaksi data transaksi ke PPATK meliputi Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM), Laporan Transaksi Keuangan Tunai (LTKT), Laporan Transakasi Pengadaan Barang/Jasa, CBCC dan pelaporan lainnya yang kemudian di share Informasi ke Aseanapol, Interpol, Sisminbakum, Adminduk, SIPJT Bank (CIF), next data imigrasi. Asset tracing dilakukan secara pro Aktif Analisis dan Reaktif Analisis atas permintaan data dari Apgakum proses Penyelidikan, Screening harta kekayaan pejabat, teknis Analisis Transaksi, Profiling target (database PPATK, other source LHKPN, Website). 

Asset Tracing juga bisa dilakukan dengan OSIN (open source investigation/medsos). Asset grouping dengan mengumpulkan data tambahan dari sumber lainnya, tracing aliran dana (tempus, place). Pattern of transaction dengan kolaborasi antara PPATK dan APH. Materi terakhir tentang Simulasi dan Praktik penyusunan Modus Operandi serta pemaparan internal meguraikan metode pemaparan dilakukan dengan diagram flowchart, mapping dan matriks. Flowchart adalah bagan/gambar dalam bentuk simbol- simbol yang digunakan untuk menggambarkan urutan pengerjaan serta logika yang akan dijalankan dalam suatu proses secara berurutan sejak dimulai sampai selesai dengan menggunakan simbol-simbol beserta uraian secara singkat. Mapping menyajikan secara sistematis tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan 5W+1H yaitu mengungkap siapa pelakunya, bagaimana modus operandinya, Berapa kerugian yang diderita, faktor apa saja yg mendorong terjadinya kasus, faktor penyebab pokok apa saja serta penjelasan lainnya yang dapat lebih menjelaskan apa sebenarnya yg terjadi. Sementara Matriks berisi uraian simpulan yang mengkaitkan bukti kasus yang telah didapatkan dengan ketentuan (pasal/unsur) peraturan perundangan yg berlaku (TPK).