OVERVIEW FRAUD

 photo OVERVIEW FRAUD_zpsg3sruwnm.gif
Dalam menjalankan peran Inspektorat untuk melakukan deteksi dini terjadinya kecurangan (fraud) dan tindakan korupsi, Inspektur mmengenalkan Fraud kepada para pejabat struktural dan fungsional tertentu di lingkungan Inspektorat Kabupaten Banjar. Disampaikan Inspektur bahwa Fraud tidak serta merta dapat diterjemahkankan sebagai kecurangan, menurut Merriam-Webster-Dictionary of Law, Fraud diartikan sebagai “ any act, expression, omission, or concealment calculated to deceive another to his or her disadvantage; specifically : a misrepresentation or concealment with reference to some fact material to a transaction that is made with knowledge of its falsity or in reckless disregard of its truth or falsity and with the intent to deceive another and that is reasonably relied by the other who is injured thereby".

Sementara definisi fraud (kecurangan) dalam Sistem Kendali Kecurangan BPK-RI Tahun 2011 disebutkan bahwa Kecurangan adalah tindakan penyimpangan yang sengaja dilakukan atau tindakan pembiaran yang dirancang untuk mengelabui / menipu / memanipulasi pihak lain sehingga pihak lain menderita kerugian dan / atau pelaku kecurangan memperoleh keuntungan keuangan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan Bank Indonesia dalam Surat Edaran Gubernur BI Nomor 13/28/DPNP, mendefinisikan kecurangan sebagai tindakan penyimpangan atau pembiaran yang sengaja dilakukan untuk mengelabui , menipu, atau memanipulasi Bank, nasabah, atau pihak lain, yg terjadi di lingkungan Bank dan/atau menggunakan sarana Bank sehingga mengakibatkan Bank, nasabah, atau pihak lain menderita kerugian dan/atau pelaku fraudmemperoleh keuntungan keuangan baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Dari ketiga definisi tersebut dapat ditarik benang merah dari unsur Fraud diantaranya adalah adanya tindakan menyimpang, unsur kesengajaan (dengan niat) untuk mengelabui/menipu, kerugian yang ditanggung pihak lain. Dalam skema segitiga fraud, digambarkan bahwa fraud terjadi karena adanya pressure (dorongan), opportunity (peluang), dan rationalization (rasionalisasi/pembenaran). Pressure adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud, contohnya hutang atau tagihan yang menumpuk, gaya hidup mewah, ketergantungan narkoba, dll. Pada umumnya yang mendorong terjadinya fraud adalah kebutuhan atau masalah finansial. Tapi banyak juga yang hanya terdorong oleh keserakahan (greed). 

Sedangkan opportunity adalah peluang yang memungkinkan fraud terjadi disebabkan karena internal control suatu organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan, dan/atau penyalahgunaan wewenang. Di antara 3 elemen fraud triangle, opportunity merupakan elemen yang paling memungkinkan untuk diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur, dan control dan upaya deteksi dini terhadap fraud. Rasionalisasi/pembenaran terjadi karena seseorang mencari pembenaran atas aktifitasnya yang mengandung fraud. Pada umumnya para pelaku fraud meyakini atau merasa bahwa tindakannya bukan merupakan suatu kecurangan tetapi adalah suatu yang memang merupakan haknya, bahkan kadang pelaku merasa telah berjasa karena telah berbuat banyak untuk organisasi. 

Dalam beberapa kasus lainnya terdapat pula kondisi dimana pelaku tergoda untuk melakukan fraud karena merasa rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama dan tidak menerima sanksi atas tindakan fraud tersebut. Misalnya tindakan untuk membahagiakan keluarga dan orang-orang yang dicintainya, merasa masa kerja pelaku cukup lama dan dia merasa seharusnya berhak mendapatkan lebih dari yang telah dia dapatkan sekarang (posisi, gaji, promosi, dll.), perusahaan telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan tidak mengapa jika pelaku mengambil bagian sedikit dari keuntungan tersebut. Fraud bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. 

Berdasarkan penelitian, frekuensi fraud banyak terjadi di kalangan employee (karyawan) dibanding dengan manager atau eksekutif/owner. Namun demikian, nilai kerugian yang ditimbulkan ternyata lebih besar diakibatkan oleh fraud yang terjadi di tingkat manajer atau eksekutif. Fraud (Kecurangan) yang dilakukan oleh pimpinan umumnya lebih sulit ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh karyawan. Oleh karena itu, perlu diketahui gejala yang menunjukkan adanya kecurangan tersebut yang diantaranya adalah moral dan motivasi karyawan rendah; tingkat komplain yang tinggi terhadap organisasi/perusahaan dari pihak konsumen, pemasok, atau badan otoritas; kekurangan kas secara tidak teratur dan tidak terantisipasi; terdapat kelebihan persediaan yang signifikan dan lain sebagainya. 

Dalam mencegah dan mendeteksi serta menangani fraud, selain manajemen merancang kemungkinan terjadinya fraud melalui budaya perusahaan, kebijakan-kebijakan, dan pendelegasian wewenang. sebenarnya ada beberapa pihak yang terkait yaitu auditor internal (Inspektorat) dan auditor eksternal (BPK). Auditor internal melakukan pengendalian atas proses transaksi disetiap jenjang yang pada dasarnya merupakan proses yang lebih bersifat preventif dan pengendalian yang bertujuan untuk memastikan bahwa hanya transaksi yang sah, mendapat otorisasi yang memadai yang dicatat dan melindungi organisasi dari kerugian. Sedangkan Auditor Eksternal diarahkan untuk mendeteksi fraud sebelum menjadi besar dan membahayakan organisasi. 

Pendeteksian fraud oleh auditor internal merupakan salah satu peran dari kegiatan internal auditing yang dijalankan dalam organisasi. Auditor internal bertanggung jawab dalam mendeteksi fraud yang mungkin telah terjadi sedini mungkin, sebelum memebawa dampak yang lebih buruk pada organisasi. Pendeteksian tersebut dapat dilakukan pada saatmenjalankan kegiatan internal auditing. Pada saat melakukan audit, auditor internal dapat memfokuskan diri pada area-area yang memeiliki risiko tinggi terjadinya fraud seperti transaski kas, rekonsiliasi bank, proses pengadaan, pendapatan, dll. Jika auditor internal menemukan suatu indikasi terjadinya fraud dalam organisasi, auditor internal harus melaporkannya kepada pihak-pihak terkait dalam organsiasi tersebut. Auditor internal dapat memberikan rekomendasi dilakukannya investigasi yang diperlukan untuk menyelidiki fraud tersebut.