FRAUD DAN PSIKOLOGI KRIMINAL

 photo PSIKOLOGI KRIMINAL_zpspzsfthuc.gif
Fraud sebagai perbuatan/tindakan pengelabuan yang dilakukan secara tersembunyi dengan niat yang mengakibatkan kerugian tidak dapat dipisahkan dari kriminologi. Kriminologi adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari mengenai sifat kriminalitas, penyebab terjadinya kriminalitas, tipologi kriminalitas, akibat dari kriminalitas serta upaya-upaya pencegahan kriminalitas. Fraud sebagai sebuah deviasi dari suatu perbuatan kriminal / kriminalitas memiliki hubungan erat dengan psikologi manusia. Psikologi berkaitan dengan berbagai macam konsep kejiwaan seperti persepsi, motivasi, kepribadian, perilaku dan hubungan sesama manusia. Psikologi kriminal (criminal psychology) merupakan salah satu bagian dari forensic psychology yang mempelajari mengenai aspek kejiwaan pelaku kejahatan dan perilaku menyimpang untuk mengetahui mengapa seseorang melakukan kejahatan dan berperilaku menyimpang. 

Suatu perilaku dianggap sebagai perilaku menyimpang belum tentu sama di dalam masyarakat dalam lingkungan yang berbeda. Suatu tindakan dalam suatu masyarakat dapat dianggap sebagai penyimpangan, namun dalam kelompok masyarakat yang lain tindakan tersebut dianggap suatu hal yang biasa. Meskipun perilaku menyimpang biasanya tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat, namun tidak semua perilaku menyimpang adalah buruk. Perilaku menyimpang yang menjadi bahasan di dalam forensic psychology dan criminal psychology adalah semua tindakan dan perilaku yang melanggar norma-norma yang berlaku khususnya aturan-aturan yang ditetapkan secara formal yang pada umumnya melahirkan tindak kejahatan, 

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang berperilaku menyimpang sehingga mereka melakukan praktek kriminal seperti tindakan fraud. Beberapa teori menyatakan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memilih bertindak kriminal jika keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada kerugian yang diderita. Teori ini merupakan Classical criminology theory yang dipelopori oleh Cesare Bonesana Beccaria dan Jeremy Bentham. Teori lain menjelaskan bahwa perilaku kriminal dipengaruhi oleh 3 elemen yaitu tersedianya sasaran (berupa orang atau organisasi) yang cocok, tidak ada petugas atau pengawas yang baik (auditor intern, kamera pengawas dan satpam) dan terdapat motivasi pendorong (masalah keuangan dan ketidaksukaan dengan organisasi tempatnya bekerja). 

Selain kedua teori tersebut, masih ada beberapa teori lain namun pada dasarnya perilaku menyimpang dan perilaku fraud yang dilakukan oleh seseorang akan disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal yang berasal dari dalam diri pelaku dan faktor eksternal yang berasal dari luar pelaku fraud. Faktor internal lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor psikologis, faktor biologis serta kebebasan manusia untuk melakukan pilihan untuk berlaku curang atau tidak sedangkan Faktor eksternal lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang memberikan kesempatan untuk melakukan kecurangan serta tidak adanya pengawasan dari orang lain atau petugas yang berwenang. Demikian penjelasan Inspektur Kabupaten Banjar dalam mengawali paparannya dalam Pelatihan Kantor Sendiri (PKS) bagi para pejabat strukturat dan pejabat Fungsional tertentu di lingkungan Inspektorat Kabupaten Banjar. 

Interaksi faktor-faktor internal akan membangkitkan niat yang kemudian diwujudkan karena adanya kesempatan. Perilaku kriminal tidak bisa dihilangkan selama ada niat dan didukung dengan kesempatan. Fraud ataupun Krimninal lainnya hanya dikurangi melalui tindakan-tindakan pencegahan seperti pertama membatasi kesempatan seseorang untuk melakukan tindakan kriminal dengan membangun sistem pengendalian yang handal kedua membangun integritas dan pemberian efek jera untuk menekan niat. Selama ini hukuman (punishment) menjadi sarana utama untuk membuat jera pelaku kriminal. Dan pendekatan behavioristik ini tampaknya masih cocok untuk dijalankan dalam mengatasi masalah kriminal. Hanya saja, perlu kondisi tertentu, misalnya konsisten, fairness, terbuka, dan tepat waktunya. Bila kondisi yang terjadi malah sebaliknya, maka akan semakin menyuburkan perilaku kriminal. 

Sebagai Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP), inspektorat berperan dalam upaya pencegahan terjadinya fraud khususnya korupsi dengan kemampuannya melakukan deteksi dini korupsi. Peran tersebut akan maksimal apabila didukung dengan aparat pengawas yang kapabel. PKS tentang psikologi kriminal adalah salah upaya Inspektur untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan aparat pengawas di lingkungan Inspektorat Kabupaten Banjar dengan memberikan pemahaman atas kecenderungan perilaku kriminal yang mungkin terjadi pada individu dari obyek pemeriksaan (obrik). Dalam penyelenggaraan pemerintahan, kadang fraud/korupsi dilakukan oleh mereka yang berada di luar jangkauan hukum, bekerja di atas rata-rata dan memiliki keistimewaan serta dapat dibedakan dengan mudah dari orang-orang lain yang tidak istimewa. Orang-orang seperti ini aka mengambil sumber daya organisasi atau mengeksploitasi privilese tertentu yang dirasa berhak menjadi milik mereka dan merasa tidak pantas apabila hanya memperoleh sesuatu sebagaimana yang diterima oleh orang biasa. 

Di ranah publik, karena sistem birokrasi perbuatan fraud tidak selalu dilakukan oleh mereka yang memiliki karakter tidak jujur, atau sebaliknya orang jujur tidak akan pernah melakukan fraud. Bila orang dengan karakter tidak jujur melakukan fraud tanpa mempedulikan kebenaran dan menyadari kejahatan yang mereka lakukan serta bersedia mencapai tujuan dengan cara-cara yang tidak jujur, maka orang jujur yang menjadi pelaku fraud dengan melakukan manipulasi angka dari data laporan dilakukan semata-mata untuk kepentingan organisasi. Tetapi akibat dari tindakan fraud yang dilakukan keduanya adalah sama, yaitu adanya pihak-pihak yang akan dirugikan dengan pengelabuan tersebut. Menurut inspektur, memperhatikan latar belakang kejadian tersebut juga menjadi penting dalam rangka untuk membuat rekomendasi tingkat sanksi yang diberikan kepada pelaku.