INVESTIGASI DAN PEMBUKTIAN

 photo INVESTIGASI DAN PEMBUKTIAN_zpsewbmyv3b.gif
Untuk meningkatkan pemahaman pelaksanaan audit yang bersifat investigatif di lingkungan aparat pengawas Inspektorat Kabupaten Banjar, Inspektur memberikan paparan lanjutan dalam Pelatihan Kantor Sendiri (PKS) tentang investigasi dan pembuktiannya. Meskipun Inspektorat Kabupaten Banjar belum memiliki Inspektur pembantu (Irban) khusus bidang investigasi, namun pola-pola audit investigative sudah sering dilakukan oleh semua Irban beserta Pejabat Fungsional Tertentu terutama berkaitan dengan pengawasan tindak lanjut pengaduan masyarakat. Audit investigative berhubungan dengan pengumpulan bukti audit yang berupa surat, keterangan saksi atau pihak terkait dan keterangan dari terlapor. Bukti surat yang berupa dokumen memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi dokumen dapat memperjelas kasus yang tengah diungkap namun di sisi lain dapat juga memperlemah pemeriksaan tergantung dokumen apa yang disajikan dan bagaimana dokumen tersebut disajikan. Oleh karena itu, dokumen tersebut harus didukung dengan keterangan pihak terkait maupun terlapor.

Dalam pengumpulan bukti surat sedapat mungkin diperoleh dokumen asli, kemudian dokumen tersebut dicopy guna kepentingan pemeriksaan selanjutnya, dokumen copy dan asli harus ditempatkan terpisah. Dokumen asli hanya boleh digunakan apabila sangat diperlukan, pada banyak kasus untuk pembuktian lebih lanjut kadang diperlukan analisa forensik terhadap dokumen asli. Yang menjadi penting untuk diketahui adalah, seorang investigator dalam memperoleh dokumen tidak boleh dengan pemaksaan apalagi menyita. Untuk itu,investigator perlu memliki ketrampilan berkomunikasi yang baik dengan pihak-pihak terkait sehingga bukti berupa dokumen dapat diperoleh secara sukarela, atau dengan ijin. Ijin untuk mendapatkan dokumen atau alat bukti tersebut bisa berupa izin lisan maupun tertulis, namun untuk menghindari tuntutan dikemudian hari, sebaiknya izin perolehan dokumen harus secara tertulis. 

Untuk memperjelas posisi bukti surat yang berupa dokumen, maka diperlukan keterangan dari saksi sebagai orang yang ikut mendengar dan/atau melihat dan/atau mengalami saat terjadinya peristiwa yang menjadi materi pengaduan serta keterangan terlapor sebagai konfirmasi. Bukti Keterangan tersebut diperoleh dari proses wawancara atupun melaui permintaan keterangan. Hal pertama yang dilakukan pada saat wawanca adalah melakukan persiapan baik tempat dan materi wawancara dari sebuah pengaduan sebagai bagian dari investigasi. Proses selanjutnya adalah mewawancarai saksi secara bertahap. Hal ini tergantung pada bukti-bukti utama mereka, tingkat kedekatan mereka dengan tersangka, serta kesediaan mereka. Pada umumnya, para saksi akan memberikan pernyataan yang terbaik sebagai bukti dengan cara yang singkat, bila fakta-faktanya masih segar dalam ingatan mereka. 

Dijelaskan oleh inspektur, investigator tidak boleh menggunakan keterangan saksi yang yang didasarkan pada pendapat/opini pribadi saksi, kecuali saksi adalah seorang yang ahli untuk memberi suatu pendapat tertentu. Bukti sebuah pendapat dapat diterima jika berdasarkan dengan apa yang dilihat, didengar, atau diketahui seorang saksi tentang suatu kasus dan opininya biasanya meliputi pengertian yang memuaskan saksi terhadap persepsi permasalahan seperti dengan menunjukan ekspresi pihak-pihak terkait pada saat peristiwa terjadi ataupun saksi dapat mengekspresikan sebuah pendapat tentang sesuatu meskipun ia bukan seorang yang ahli tapi berpengalaman dengan pokok permasalahan. Namun demikian, meski pendapat tersebut relevan dengan fakta/bukti, namun tidak yakin apakah bukti tersebut dapat diterima, maka pernyataan pendapat tersebut dapat tidak dipergunakan. 

Keterangan yang juga tidak boleh digunakan oleh seorang investigator adalah keterangan/pernyataan dari orang kedua. Orang kedua adalah orang yang tidak melihat, mendengar dan mengetahui sendiri dari sebuah peristiwa kecuali setelah mendengarkan dari orang lain tentang peristiwa tersebut. Keterangan orang tersebut tidak dapat dijadikan bukti jika tujuan dari bukti tersebut untuk membuktikan keadaan sebenarnya dari suatu peristiwa, hal ini dikarenakan keterangan oran kedua tidak memenuhi dua dari lima syarat formil yaitu menerangkan apa yang dilihat, ia dengar, dan ia alami sendiri dan diketahui sebab-sebab ia mengetahui peristiwa. Syarat formil yang lain adalah bukan merupakan pendapat atau kesimpulan saksi sendiri; Saling bersesuaian satu sama lain dan tidak bertentangan dengan akal sehat. 

Seperti halnya pada alat bukti pada umumnya, alat bukti saksi pun mempunyai syarat formil dan materiil, antara kedua sifat ini bersifat komulatif, bukan alternatif. Oleh karena itu, apabila salah satu syarat mengandung cacat, mengakibatkan alat bukti itu tidak sah sebagai alat bukti saksi. Sekiranya syarat formil terpenuhi menurut hukum, tetapi salah satu syarat materiil tidak lengkap, tetap saksi yang diajukan tidak sah sebagai alat bukti. Atau sebaliknya, syarat materiil terpenuhi, tetapi syarat formil tidak, hukum tidak menolerirnya, sehingga saksi itu tidak sah sebagai alat bukti. Dalam hal menimbang nilai dari keterangan saksi haruslah diperhatikan benar kecocokan saksi-saksi yang satu dengan yang lain. 

Hal yang penting dalam investigasi adalah mengumpulkan, mengevaluasi, dan mengamankan informasi beserta bukti tentang hal-hal yang sedang diinvestigasi. Semua bukti harus disimpan dalam tempat yang aman untuk menghindari perusakan, perubahan dan pencurian oleh saksi, terlapor atau pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Keamanan dari bukti perkara ini sangat penting. Untuk itu, perlu dikontrol secara terus menerus. Bila perlu, pada saat melakukan investigasi, seorang investigator tidak boleh ditinggalkan atau tertinggal di meja kerjanya. Demikian disampaikan oleh inspektur atas pemaparan materi investigasi dan pembuktian dikaitkan dengan upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil pengawasan lanjut pengaduan masyarakat.