MO DAN LHAI

 photo MO DAN LHI_zpsxknjy8n7.gif
MO yang biasanya digunakan untuk penyebutan Modus Operandi berasal dari bahasa latin untuk menggambarkan kebiasaan/pola kerja seseorang khususnya dalam bidang bisnis atau investigasi kejahatan. Istilah tersebut sering digunakan oleh Aparat Penegak Hukum (APH) berkaitan dengan metode operasi/kerja dari pelaku kejahatan, juga untuk membuat profil kejahatan yang dapat memberikan petunjuk atas psikologi pelaku kejahatan. Dalam dunia bisnis, MO digunakan untuk menggambarkan kecenderungan/cara cara yang disukai oleh perusahaan dalam berinteraksi dengan perusahaan yang lain. Fraud sebagai tindak pengelabuan dengan niat yang dilakukan secara sembunyi dan mengakibatkan kerugian, juga memiliki MO. Gillian Lees dalam bukunya “FRAUD RISK MANAGEMENT, A guide to good practice,” menginventarisir berbagai modus internal fraud dalam penyalahgunaan aset (misapropriation asset), kecurangan laporan keuangan ( Fraudulent statement ) dan korupsi (Corruption).

Untuk mengungkap MO Fraud dilakukan melalui audit yang tentunya berbeda dengan audit operasional atau audit kinerja yang digunakan para auditor keuangan biasa. Audit yang digunakan tersebut adalah audit yang bersifat investigatif dimana audit tersebut menggabungkan antara kemampuan ilmu audit yang terdapat dalam ilmu ekonomi dengan peraturan perundang-undangan, audit tersebut dikenal dengan audit investigasi. Audit Investigasi (AI) merupakan bagian dari manajemen kontrol untuk mengumpulkan dan menguji bukti-bukti terkait kasus penyimpangan/kecurangan atau fraud yang berindikasi merugikan organisasi untuk memperoleh kesimpulan yang mendukung tindakan tidakan korektif manajemen dan/atau litigasi (dalam persidangan). 

Audit investigatif seharusnya dilaksanakan oleh orang-orang yang mempunyai pengalaman dan keahlian dalam melaksanakan audit investigatif. Auditor yang belum memiliki pengalaman dan keahlian harus mendapat bimbingan dari auditor lain yang memiliki pengalaman dan keahlian audit investigatif. Auditor investigatif juga perlu mempunyai pemahaman yang cukup tentang hal-hal yang akan diaudit terutama menyangkut peraturan yang berlaku serta proses bisnis yang berkaitan dengan hal-hal yang akan diaudit. Secara khusus, auditor yang akan melaksanakan audit investigatif juga harus mempunyai pemahaman yang cukup tentang ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan hal-hal yang akan diaudit maupun ketentuan-ketentuan hukum yang berkaitan dengan pengungkapan kejahatan misalnya Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana atau KUHAP. 

Peran AI dalam pengungkapan fraud dilakukan dengan mendeteksi kasus posisi dan modus operandi; menetapkan sebab-sebab penyimpangan dan rekomendasi; mengindentifikasi pihak-pihak yang diduga terkait atau bertanggungjawab; menghitung jumlah kerugian keuangan negara. Efektifitas pengungkapan fraud dapat memberikan nilai tambah terutama untuk recovery kerugian yang terjadi, penyempurnaan sistem pengendalian dan menjadikan pelaku potensial lainnya urung untuk melakukan fraud/kecurangan. Tindakan ini akan memberikan dampak positif karena memungkinkan bagi organisasi untuk memperbaiki management dengan peningkatan kinerja baik dari aspek ekonomisnya pengadaan, effisiennya proses bisnis dan efektifitasnya program kerja. 

Audit investigasi menghasilkan suatu laporan tertulis disertai dengan dokumen-dokumen pelengkap atau bukti audit yang dituangkan dalam Laporan Hasil Audit Investigasi (LHAI). Dalam LHAI dapat disimpulkan 2 (dua) hal, yaitu adanya potensi penyimpangan atau tidak terdapat potensi penyimpangan. LHAI menjelaskan mengenai nilai kerugian negara, bentuk penyimpangan, serta pihak-pihak yang memiliki potensi keterlibatan dalam penyimpangan tersebut. LHAI disusun dengan memperhatikan keakurat, kejelasan, berimbang, relevan dan tepat waktu. Adapun maksud dari akurat ialah bahwa seluruh materi laporan misalnya menyangkut kecurangan atau kejahatan yang terjadi serta informasi penting lainnya, termasuk penyebutan nama, tempat atau tanggal adalah benar sesuai dengan bukti-bukti yang sudah dikumpulkan. 

Sementara untuk kejelasan dimaksudkan adalah laporan harus disampaikan secara sistematik dan setiap informasi yang disampaikan mempunyai hubungan yang logis. Sementara itu, istilah-istilah yang bersifat teknis harus dihindari dan kalau tidak bisa dihindari harus dijelaskan secara memadai. Sedangkan untuk berimbang dalam arti bahwa laporan tidak mengandung bias atau prasangka dari auditor yang menyusun laporan atau pihak-pihak lain yang dapat mempengaruhi auditor. Laporan hanya memuat fakta-fakta dan tidak memuat opini atau pendapat pribadi auditor. Maksud dari relevan adalah laporan hanya mengungkap informasi yang berkaitan langsung dengan kecurangan atau kejahatan yang terjadi, dan tepat waktu dimaksudkan bahwa laporan harus disusun segera setelah pekerjaan lapangan selesai dilaksanakan dan segera disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. 

Agar memiliki dampak efek jera maka perlu diambil tindakan baik administratif maupun hukum terhadap pelaku fraud/kecurangan, maka hasil audit investigasi dapat digunakan untuk pimpinan untuk diproses secara hukum. Namun demikian LHAI tidak dapat secara langsung dijadikan alat bukti bagi penyidik sebagai syarat formil. Pasal 184 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menjelaskan bahwa alat bukti meliputi saksi, ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa. Sehingga pada prakteknya Aparat Penegak Hukum dapat tidak menindaklanjuti LHAI yang mengindikasikan adanya penyimpangan dengan argumentasi bahwa laporan tersebut sulit untuk diubah menjadi bukti hukum. Demikian disampaikan Inspektur Kabupaten Banjar dalam Pelatihan Kantor Sendiri (PKS) dihadapan para pejabat struktural dan fungsional.