INVESTIGATIVE INTERVIEW SKILL

 photo INVESTIGATIVE INTERVIEW SKILL_zpsshcxvk9p.gif
Audit investigasi adalah kegiatan pemeriksaan dengan lingkup tertentu dengan periode tidak dibatasi. Secara spesifik audit investigasi dilakukan pada area-area pertanggungjawaban yang diduga mengandung inefisiensi atau indikasi penyalahgunaan wewenang, dengan hasil audit berupa rekomendasi untuk ditindaklanjuti bergantung pada derajat penyimpangan wewenang yang ditemukan. Pelaksanaan Audit investigasi ditujukan untuk menindaklanjuti dan memperdalam temuan audit sebelumnya atau untuk membuktikan kebenaran berdasarkan pengaduan atau informasi dari masyarakat. Teknik audit investigatif meliputi pemeriksaan Fisik (Physical Examination); Permintaan Keterangan/Konfirmasi (Confirmation); Pemeriksaan Dokumen (Documentation); Reviu Analitikal (analytic review); Pemintaan Informasi Lisan atau tertulis dari terperiksa (inquiries of the auditee); Perhitungan kembali (reperformance); dan Pengamatan (observation). Pemeriksaan fisik, pemeriksaan dokumen, reviu analitikal dan perhitungan kembali dilakukan terhadap alat bukti atau petunjuk dengan tujuan untuk menemukan kemungkinan fraud/kecurangan yang telah dilakukan. Sementara permintaan keterangan/konfirmasi dan pemintaan informasi lisan atau tertulis dilakukan melalui proses interview/wawancara baik dengan saksi maupun terperiksa. 

Permintaan keterangan/konfirmasi adalah meminta pihak terkait atau saksi yang untuk menegaskan kebenaran atau ketidakbenaran suatu informasi. Meminta konfirmasi dapat diterapkan untuk berbagai informasi, baik keuangan maupun nonkeuangan. Yang dimaksud pihak terkait adalah orang yang dikarenakan jabatan dan kewenangannya memiliki keterkait dengan materi investigasi, sedangkan saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan dikarenakan ia mendengar sendiri, ia melihat sendiri dan ia mengalami sendiri saat peristiwa fraud terjadi. Informasi tersebut digunakan meminimalkan peluang terperiksa untuk berbohong. Sementara itu, permintaan informasi lisan atau tertulis yang dituangkan dalam berita acara dilaksanakan untuk memperoleh keterangan dari pihak terperiksa. Melalui konfirmasi dan informasi ini, internal auditor dapat mendeteksi, mengungkap fraud sejak diketahui atau diindikasikan dalam rangka mencari kebenaran. Untuk itu diperlukan kemampuan khusus dalam melakukan wawancara permintaan konfirmasi / informasi (investigative interview skill). 

Investigative Interview Skill atau kemampuan wawancara dalam audit investigatif diperlukan auditor internal untuk mendapatkan informasi detil, yang tidak dipenuhi asumsi dan opini sehingga mampu menggali apa, kapan, dimana, siapa, mengapa dan bagaimana fraud itu terjadi. Demikian disampaikan oleh Inspektur Kabupaten Banjar dalam mengawali Pelatihan Kantor Sendiri (PKS) tentang Investigative Interview Skill dihadapan para Pejabat Struktural dan Pejabat Fungsional Tertentu di Lingkungan Inspektorat Kabupaten Banjar. Menurut Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), yang dimaksud wawancara adalah sesi tanya-jawab yang dirancang untuk memperoleh informasi. Wawancara terstruktur, tidak bebas-bentuk, dan dirancang untuk suatu tujuan. Wawancara mungkin hanya terdiri dari satu pertanyaan atau serangkaian pertanyaan. Mengingat tujuan wawancara adalah untuk memperoleh informasi, maka proses wawancara harus dilakukan dengan pikiran terbuka dan setiap informasi yang diperoleh harus selalu diuji dengan hal‐hal yang telah diketahui sebelumnya atau yang secara logika bisa diterima. 

Untuk menggali informasi, seorang investigator harus menetapkan tujuan informasi yang akan digali dalam wawancara, oleh karena itu perlu dipersiapkan dokumen terkait sebagai informasi awal guna mempersiapkan poin‐poin yang akan ditanyakan. Investigator yang baik, tidak akan bertindak sewenang-wenang dan terlalu mendominasi dalam wawancara. kecenderungan yang demikian ini biasanya dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk mencari informasi sehingga menggunakan jalan pintas dengan melakukan intimidasi atau investigator memiliki maksud dan tujuan lain. Karakteristik investigator yang baik adalah mereka yang mudah bergaul, bisa membuat orang lain ingin berbagi informasi, tidak banyak interupsi, menunjukkan keseriusan (mendengarkan), tidak menyalahkan dan berpenampilan profesional seperti tepat waktu, rapi maupun tidak sibuk sendiri dengan hp. Selain itu, investigator harus berlaku adil dalam situasi apapun pada setiap kasus ketika mewawancarai seseorang. 

Dalam proses interview atau wawancara terkadang terjadi hambatan komunikasi yang diakibatkan oleh Waktu wawancara yang tidak tepat, ego terwawancara, etiket, trauma, lupa, kesulitan mengurutkan kejadian dan perilaku tidak sadar. Oleh karena itu, wawancara sebaiknya didahului dengan membangun hubungan (Establishing Rapport) melalui pertanyaan pembuka seperti memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud tujuan wawancara. Dengan demikian diharapkan akan terbangun kondisi saling percaya dan saling mengerti antara investigator dan terwawancara sehingga terwawancara memiliki komitmen untuk membantu dengan memberikan informasi sebenarnya. Dalam sesi pembukaan ini harus dihindari pernyataan‐pernyataan sensitif yang dapat menimbulkan resistensi terwawancara meningkat dan tidak mudah untuk memberikan informasi. Dalam sesi ini juga digunakan untuk mengamati gestur dan konsistensi antara verbal dengan non verbal sebelum pertanyaan kritis diajukan. 

Setelah sesi pembuka dan terbangun hubungan antara investigator dan terwawancara, wawancara dapat dilanjutkan pertanyaan informational untuk menggali informasi yang faktual. Investigator dalam menggali informasi harus memperhatikan posisi terwawancara, apakah sebagai Saksi Pihak Terkait atau pihak Ketiga yang Netral (Neutral Third‐Party Witness), atau saksi yang Dapat Membenarkan (Corroborative Witness), atau pihak Yang Diduga Ikut Terlibat (Co‐Conspirators), atau pihak Yang Diduga Melakukan Penyimpangan (Subject/Target). Jenis-jenis pertanyaan informational diantaranya adalah T-E-D (Tell me - Explain - Describe) yaitu pertanyaan yang digunakan untuk memancing pembicaraan lebih lanjut. Beberapa pertanyaan ini mengandung sifat perintah seperti ceritakan, jelaskan, uraikan, dan sebagainya. Bisa juga dilakukan Probing Question yang bersifat menyelidiki dengan menggunakan 5W1H (What, Who, When, Where, Why dan How). 

Demikian disampaikan oleh Inspektur dalam materi PKS, terakhir Inspektur mengungatkan kembali bahwa selaku investigator jangan cuma bisa sewenang-wenang, menutupi ketidakmampuan mencari informasi dengan mengandalkan intimidasi. Oleh karena itu hindari jenis ‐jenis pertanyaan Double‐Negative Question (pertanyaan negatif ganda ) seperti “Apakah Saudara/i tidak curiga jika hal tersebut tidak benar ?“, atau Forced Choice Question (Pertanyaan pilihan yang dipaksakan) misal : “Saudara/i simpan dokumen tersebut di kantor atau di rumah ?”, atau Leading/Misleading Question (Pertanyaan yang mengarahkan atau menyesatkan) seperti : “Sebagai bawahan, bukankah Saudara/i mendapat perintah langsung dari atasan Sdr untuk menandatangani dokumen itu ?”, atau Multiple Question ( Satu pertanyaan dengan beberapa jawaban ) seperti : “Dimana Saudara/i menyimpan dokumen tersebut dan siapa saja yang tahu dimana saudara/i menyimpannya ?