SIMULASI FRAUD LK

 photo SIMULASI FRAUD LK_zpsupiuwqw6.gif
Kecurangan/Fraud dalam Laporan Keuangang (LK) atau Fraudulent Statement merupakan satu dari tiga cabang pohon fraud (Fraud Tree), dua cabang lainnya adalah Korupsi (Corruption) dan penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation). Meskipun frekuensi kecurangan dalam penyajian LK ini terkecil dibanding korupsi dan penyalahgunaan aset, tetapi rata-rata kerugian yang ditimbulkan akibat kecurangan ini menempati urutan pertama. Financial Statement Fraud atau Kecurangan dalam Laporan keuangan merupakan Salah saji yang disengaja atau kelalaian dari jumlah atau pengungkapan laporan keuangan untuk menipu pengguna laporan keuangan. Pengguna laporan keuangan di ranah privat terutama investor dan kreditur, sementara untuk ranah publik (pemerintah) yang dirugikan adalah masyarakat yang seharusnya menerima layanan yang baik. Demikian Inspektur Kabupaten Banjar mengawali Pelatihan Kantor Sendiri (PKS) tentang Simulasi Fraud Laporan Keuangan (LK) di lingkungan Inspektorat kabupaten Banjar yang dihadiri oleh para pejabat struktural dan pejabat fungsional tertentu. 

Umumnya fraudulent statement dilakukan untuk maksud menyembunyikan kinerja sebenarnya, mempertahankan status personal / jabatan atau untuk mempertahankan pendapatan pribadi. Oleh karena itu pelaku fraud bisa berada disemua tingkatan manajerial mulai dari pimpinan tertinggi, menengah sampai ke bawah, bahkan dalam kebanyakan kasus fraud terjadi dari hasil kolaborasi manajemen. Modus operandi Fraudulent Statement melalui banyak cara diantaranya adalah over-Statement Asset/Revenue (melebihkan nilai aset atau keuntungan) ataupun sebaliknya Understatement Asset/Revenue (mengecilkan nilai aset atau keuntungan). Pilihan atas kedua cara ini dilakukan tergantungan kepentingan yang ditujukan. Melebihkan nilai aset/keuntungan dalam laporan keuangan dimaksudkan untuk menunjukan hasil kinerja yang baik kepada para pemilik kepentingan, sementara melaporkan keuangan dengan mengecilkan nilai aset/keuntungan dimaksudkan untuk mengurangi beban pajak yang harus dibayar. 

Penilaian aset yang tidak tepat (improper asset valuation) baik dengan melebihkan maupun mengecilkan nilai dalam laporan keuangan, dilakukan dengan berbagai cara seperti manipulasi fisik persediaan, penggelembungan unit price (harga satuan), tidak mencatat kelebihan harga pembelian diatas nilai sebenarnya dari transaksi, membukukan asset fiktif atau menyajikan nilai yang lebih tinggi dengan mengkapitalisasi non-asset cost (bunga pinjaman). Sementara untuk penyamaran keuntungan (fictitious revenue) dilakukan dengan mencatat penjualan barang/jasa yg sebenarnya tidak terjadi; penjualan fiktif pada customer palsu (fake/phantom customers) atau shell company, customer dan menggelembungkan penjualan yang sebenarnya. Penyamaran ini biasanya ditandai dengan kenaikan pendapatan yang sangat cepat atau tingkat keuntungan yang tidak wajar dibanding industri sejenis; cash flow dari operasi negatif sementara melaporkan laba atau kenaikan laba yang signifikan; transaksi yang signifikan dengan related parties atau dengan pihak yang tidak dalam lingkup bisnis dan penjualan yang signifikan dengan pihak yang tidak jelas keberadaannya 

Kecurangan tersebut apabila tidak diminimalkan akan merusak kepercayaan publik atas laporan keuangan dan mempengaruhi pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat serta dapat menyebabkan terjadinya kerugian negara. Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko ini, auditor internal dapat melakukan pencegahan dengan mengevaluasi kecukupan dan efektivitas sistem pengendalian internal pemerintah atau perusahaan di ranah privat. Apabila diperlukan auditor internal dapat melaksanakan audit untuk mendapatkan bukti dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mengamati (Physical Examination) untuk memastikan secara pasti jumlah, kualitas dan kondisi aset; meminta konfirmasi (Confirmation) atas hal-hal yang meragukan; memeriksa dokumen (Documentation); melakukan review analitis (Analytical Review); melakukan tanya jawab dengan Auditan (Inquires of the Client) selaku penanggungjawab; menghitung ulang (Reperformance) dan melakukan observasi (Observation). 

Terakhir disampaikan oleh inspektur, secara umum indikasi terjadinya Fraudulent Statement apabila berulang arus kas negatif dari kegiatan usaha atau ketidakmampuan untuk menghasilkan arus kas dari operasi ketika melaporkan pertumbuhan pendapatan dan laba; pertumbuhan yang cepat atau profitabilitas yang tidak biasa, terutama dibandingkan dengan perusahaan lain di industri yang sama; signifikan, tidak biasa, atau sangat kompleks transaksi, terutama yang dekat dengan akhir periode yang menimbulkan pertanyaan sulit "substance over form”; Transaksi dengan pihak terkait yang signifikan tidak dalam kegiatan usaha atau dengan entitas terkait tidak diaudit atau diaudit oleh perusahaan lain; berulang upaya (Recurring attempts) oleh manajemen untuk membenarkan akuntansi marjinal atau tidak tepat atas dasar materialitas dan adanya pembatasan akses baik formal atau informal pada auditor internal ke orang atau informasi. 

Pencegahan atas Fraudulent statement dilakukan dengan teori segitiga penyebab terjadinya Fraud yaitu Incentive/Pressure (Insentif atau tekanan) terjadi pada pimpinan atau pegawai lain untuk menyajikan laporan keuangan yang salah saji material, Opportunity (Kesempatan) sebagai suatu keadaan yang memberikan kesempatan untuk melaksanakan salah saji material dalam laporan keuangan, dan Attitude/Rationalization (perilaku/pembenaran) merupakan Sikap, karakter atau nilai-nilai etis yang memungkinkan satu atau lebih individu dengan sadar dan sengaja melakukan tindakan yang tidak jujur, atau situasi di mana individu dapat merasionalisasi melakukan tindakan tidak jujur. Mencegah fraudulent statement pertama dengan mengurangi Incentive/Pressure (Insentif atau tekanan) dengan mengawasi kebijakan atasan yang dilakukan manajemen, menghindari menyusun target-target keuangan yang tidak realistis dengan melakukan penyesesuaian target apabila kondisi market mengharuskannya dan membuat sistem kompensasi yang fair/adil. 

Kedua dengan meminimalkan Opportunity (Kesempatan) melalui pencatatan akuntansi secara akurat dan lengkap serta dilakukan pengawasan atas transaksi/pengadaan barang/jasa. Pencatatan maupun transaksi dapat dilakukan dengan memanfaatkan sistem informasi yang dijamin keamanannya. Setiap fungsi baik itu pencatatan ataupun yang melakukan transaksi/proses pengadaan dan pelaksana kegiatan harus dipisahkan agar terjadi saling kontrol dan didukung dengan prosedur akuntansi yang jelas dan diterapkan tanpa pengecualian. Sedangkan yang ketiga yaitu untuk mengurangi pembenaran atas sikap yang tidak jujur dilakukan dengan cara-cara seperti menciptakan strong value (nilai kuat) berdasarkan integritas yang tinggi bagi seluruh pegawai, membuat aturan yang jelas; training bagi karyawan; membuat saluran pengaduan bersifat rahasia (whisttleblowing system), membuat program untuk meningkatkan integritas atau memberikan konsekuensi yang tegas bagi yang melanggar aturan maupun kode etik.