PENGUMPULAN DAN EVALUASI BUKTI

 photo ANALISIS BUKTI_zpszap3zgpt.gif
Mengawali Pelatihan Kantor Sendiri (PKS) tentang Pengumpulan dan Evaluasi Bukti di depan para pejabat struktural dan pejabat fungsional tertentu di lingkungan Inspektorat Kabupaten Banjar, Inspektur menyampaikan pentingnya bukti. "Without Evidence, there is no case", tanpa bukti tidak ada kasus. Oleh karena itu, salah satu bidang kompetensi seorang auditor forensik adalah melaksanakan audit forensik dalam rangka untuk menemukan ada tidaknya fraud yang dapat digunkan dalam proses litigasi. Dalam melaksanakan audit forensik, didalamnya terdapat proses pengumpulan dan evaluasi bukti. Pendekatan yang digunakan dalam pengumpulan bukti dilakukan dengan membangun circumstantial case melalui interviu saksi yang kooperatif dan dokumen yang tersedia; dilanjutkan dengan menggunakan circumstantial evidence untuk mengidentifikasi dan beralih ke saksi internal yang dapat memberikan bukti langsung tentang pihak-pihak yang diduga terlibat; dan terakhir dengan seal the case yaitu mengidentifikasi dan menanggapi bantahan pihak terlibat, dan membuktikan kesengajaan melalui pemeriksaan (examination) subyek atau sasaran.
Jenis bukti audit yang dapat digunakan sebagai bukti untuk mendukung kesimpulan adalah pertama bukti fisik berbentuk benda yang secara fisik dapat dilihat, diraba, atau dirasakan, seperti tanah, bangunan, mesin dan peralatan, persediaan, dan sebagainya. Kedua bukti dokumentasi yang merupakan dokumen atau catatan yang mewakili keberadaan dan keabsahan transaksi/kejadian yang terkait dengan laporan yang diuji, bukti dokumentasi dapat berasal dari luar atau diciptakan sendiri melalui sistem di dalam organisasi. Ketiga, bukti akuntansi meliputi catatan/buku-buku, seperti buku kas umum, buku kas pembantu, termasuk buku besar (ledger), sub-ledger (kartu-kartu), yang digunakan untuk merekam bukti dokumentasi dalam rangka menunjang proses penyusunan laporan. Keempat, bukti keterangan dari pernyataan pihak manajemen atau stafnya yang dibuat secara tertulis, baik yang diperoleh melalui wawancara maupun dari jawaban tertulis terhadap daftar pertanyaan (questionnaire) yang disampaikan auditor. Dan kelima, bukti analisis, yaitu hasil analisis yang dibuat oleh auditor terkait dengan data yang dikumpulkannya melalui proses audit yang dilakukan. 

Untuk mendapatkan semua jenis bukti tersebut, diperlukan teknik pengumpulan bukti mulai dari analytical Review; Confirmation (konfirmasi); Documentation (dok dukungan transaksi atau catatan); Inquiries (minta informasi tertulis atau lisan); Mechanical accuracy (cek perhitungan); Observation (pengamatan); Physical examination (pemeriksaan fisik). Analytical Review merupakan prosedur analitik yang digunakan untuk mencari indikasi adanya kelainan atau penyimpangan tertentu atau membuat simpulan tentang suatu tindakan, keadaan, kejadian yang terjadi. Pelaksanaan Analytical Review dapat dilakukan dengan melakukan pembandingan beberapa data yang sama dari sumber yang berbeda atau data yang berbeda dari sumber sama, embandingan juga dilakukan terhadap data atau fakta tentang tindakan, keadaan atau kejadian yang ditemukan dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku dan bila diperlukan menggunakan rumus atau formula tertentu untuk melihat hubungan antar fakta. Confirmation (konfirmasi) dilakukan untuk meminta penegasan dari pihak-pihak yang mengetahui atau relevan untuk meyakinkan bahwa informasi tertentu yang telah dimiliki auditor benar dan akurat. Informasi yang diperoleh dari hasil konfirmasi harus diuji silang dengan hasil pengujian lainnya. 

Documentation (dokumentasi) adalah pengujian yang dilakukan auditor atas dokumen dan catatan auditee, dokumen tersebut bisa berupa bukti-bukti transaksi seperti kuitansi, faktur, kontrak, berita acara, sertifikat, catatan atau pembukuan dan bukti-bukti tertulis lainnya termasuk catatan dan rekaman komputer atau digital. Teknik yang digunakan dalam documentation antara lain vouching yaitu pengujian keberadaan data transaksi yang ada dalam laporan atau informasi lain atau catatan/akuntansi dengan bukti-bukti pendukungnya maupun melakukan tracing (penelusuran) yaitu dengan menguji apakah setiap transaksi yang ditemukan, berdasarkan dokumen atau data lainnya, telah dicatat, dilaporkan atau disajikan dalam bentuk informasi lain dengan lengkap dan benar. Inquiries adalah kegiatan permintaan keterangan/wawancara dilakukan tertulis ataupun lisan. Teknik ini dapat dilakukan kepada pihak ketiga atau saksi dan bisa juga dilakukan kepada orang yang diduga terlibat atau pelaku. Keterangan yang diperoleh dari teknik audit ini biasanya tidak dapat digunakan sebagai simpulan, tapi digunakan sebagai bukti audit untuk memperkuat bukti yang diperoleh dengan teknik audit lainnya yang berkesesuaian. 

Observation (Pengamatan) dilakukan dengan memanfaatkan indera untuk mengetahui sesuatu seperti menggunakan penglihatan, pendengaran, perabaan dan pemciuman. Observasi biasanya dilakukan untuk memperoleh indikasi terjadinya penyimpangan dan tidak digunakan untuk membuat simpulan akhir tentang terjadi atau tidak terjadinya fraud. Dan terakhir physical examination (pemeriksaan fisik) digunakan untuk meyakinkan keberadaan atau kondisi suatu benda berwujud atau kertas berharga sesuai dengan yang seharusnya. Teknik audit ini dapat dilakukan terhadap kas, persediaan, aset tetap, kertas berharga dan lainnya. Langkah-langkah yang perlu dipertimbangkan dalam pengumpulan bukti adalah bukti tersebut pertama harus relevan dengan salah satu bagian dari rangkaian bukti2 yg menggambarkan suatu proses kejadian atau jika bukti tsb secara tdk langsung menunjukkan kenyataan dilakukan atau tdk dilakukannya suatu perbuatan. Suatu bukti mungkin awalnya dianggap tdk relevan namun berdasarkan pengembangan lebih lanjut ditemui relevansi bukti tsb dlm kasus yg ditangani. Suatu bukti mungkin awalnya dianggap tdk relevan namun berdasarkan pengembangan lebih lanjut ditemui relevansi bukti tsb dlm kasus yg ditangani. 

Kedua, bukti yang dikumpulkan harus mempunyai nilai materialitas dalam arti hubungan bukti terhadap sangkaan yg diindikasikan dan tidak melihat besaran dari nilai yg terkandung dalam bukti tersebut, karena tidak seluruh bukti menunjukkan nilai suatu transaksi. Ketiga, bukti harus kompeten yaitu bukti tidak hanya didasarkan pada proses pembuatannya, tetapi juga proses perolehan bukti tersebut oleh auditor. Bukti yang diperoleh secara illegal, tidak diterima menurut hukum. Disamping itu, kompetensi juga menyangkut kewenanangan auditor untuk memperoleh bukti. Bukti-bukti yang secara hukum bersifat rahasia, umumnya tidak kompeten, kecuali didukung dengan bukti lain yang secara hukum dapat diterima. Dan terakhir yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan bukti adalah kuantitas bukti atau kecukupan, kuantitas bukti yang diperoleh dianggap cukup apabila bukti tersebut dapat menggambarkan apa, siapa, dimana, bilamana, dan bagaimana suatu kejadian / tindak pidana dilakukan. Bukti audit yang cukup dapat dijadikan dasar untuk menarik suatu simpulan audit. 

Setelah semua bukti terkumpul dan telah memenuhi syarat maka dilakukan evaluasi atas bukti-bukti tersebut. Evaluasi ini diperlukan sebagai petunjuk untuk memperoleh bukti lain yang dapat digunakan untuk mendukung bukti yang telah kita dapatkan sebelumnya, menunjukkan gambaran suatu kejadian/ peristiwa, menilai apakah hipotesis yang disusun telah menggambarkan kondisi yang sesungguhnya dan menyimpulkan terbukti atau tidaknya suatu fraud. Dalam tahap evaluasi bukti, memungkinkan adanya perubahan hipotesis apabila hasil evaluasi bukti tidak mendukung hipotesis sebelumnya namun mengarah pada permasalahan yang sebelumnya tidak kita perkirakan. Hasil evaluasi bukti inilah yang akan menentukan apakah kasus tersebut terbukti atau tidak. Dalam melakukan evaluasi atas bukti, ada hal yang perlu diantisipasi yaitu kronologis waktu (time frame), Penggunaan time frame dalam bentuk flowchart dapat menggambarkan satu modus operandi terjadinya fraud. Dengan time frame bisa dibuat kronologis fakta secara sistematis dan akan mempermudah dalam ekspose di depan penyidik.